LAPORAN AKHIR PENELITIAN
PENELITIAN PEMULA
TIM PENGUSUL
Khiki
Purnawati Kasim, S.ST.,M.Kes
NIDN:
4002117901
Rostina
S, S.ST.,M.Kes
NIDN: 4019087601
Stientje,
SKM.,M.KM
KEMENTERIAN KESEHATAN
REPUBLIK INDONESIA
POLTEKKES
KEMENKES MAKASSAR
KESEHATAN
LINGKUNGAN
TAHUN
2024
RINGKASAN
Kota Makassar
merupakan wilayah dengan kasus diare terbanyak di Sulawesi Selatan berdasarkan
pemetaan penyakit yang berpotensi menjadi KLB tahun 2022 oleh BTKLPP Kota
Makassar. Air yang mengandung bakteri dalam jumlah yang besar dapat
menimbullkan penyakit pada manusia atau hewan ternak yang memakainya. Untuk itu
digunakan kayu secang yang mengandung bahan aktif tanin, flavanoid dan brazilin
sebagai antimikroba.
Tujuan
penelitian ini adalah untuk mengetahui kemampuan kayu secang (Caesalpinia
sappan L.) dalam menurunkan bakteri Coliform pada air minum (air di masak dan
air isi ulang) sebagai upaya penangan kasus diare dengan metode eksperimen
laboratorium menggunakan 1 gr kayu secang setiap 1 liter air dengan waktu
kontak 12 jam dan replikasi lima kali.
Kesimpulan
penelitian ini adalah informasi kemampuan kayu secang dalam menurunkan bakteri
Coliform pada air minum sebagai upaya penanganan kasus diare. Hasil penelitian
ini akan dipublikasikan dalam 1 artikel jurnal ber ISSN, selain itu diharapkan
dapat dijadikan sumber referensi oleh peneliti baik dalam dan luar negeri,
dosen dan mahasiswa khususnya dalam bidang keilmuan penyehatan makanan dan
minuman.
Target luaran
yang akan dicapai dalam penelitian pemula ini berupa luaran wajib yakni
publikasi di jurnal nasional ber ISSN yang rencananya akan dipublikasikan di
jurnal Sulolipu Sinta 4. Uraian TKT dalam penelitian ini adalah TKT 2 dengan
TKT Akhir adalah TKT 3 yang bertujuan untuk penelitian dasar dengan menggali
kemampuan kayu secang dalam
menurunkan bakteri pada air minum serta untuk pembuktian konsep secara analisis
maupun eksperimental.
BAB I
PENDAHULUAN
A.
Latar Belakang
Air
menjadi kebutuhan pokok yang terus-menerus dibutuhkan untuk memenuhi kebutuhan
sehari-hari baik itu untuk mencuci, memasak, minum, mandi dan sebagainya.
Kualitas air menjadi hal yang perlu diperhatikan dalam penggunaannya, terutama
penggunaan sebagai sumber air minum. Berdasarkan Permenkes RI No. 2 Tahun 2023
tentang Peraturan Pelaksanaan Peraturan Pemerintah Nomor 66 Tahun 2014 Tentang
Kesehatan Lingkungan, untuk kualitas air minum kadar maksimum yang
diperbolehkan untuk Total Coliform yaitu 0 CFU/100 ml 2.
Kandungan
bakteri patoghen dalam jumlah yang besar pada air dapat menimbulkan penyakit
pada manusia atau hewan ternak yang memakainya. Misalnya bakteri saluran
pencernaan seperti bakteri Cholera,
Thypus, Para Thypus, Disentry, dsb. Dimana penyakit-penyakit tersebut dapat menular melalui air. Salah satu
penyakit yang disebabkan oleh bakteri Coliform
adalah diare. (Riskesdas 2013 dalam 3.
Hasil pemetaan penyakit berpotensi KLB di Provinsi Sulawesi Selatan tahun
2022 oleh BTKLPP Makassar dapat diketahui 2 penyakit terbanyak yakni Diare akut
dan Influenza. Kasus diare terbanyak adalah Kota Makassar sebesar 4.611 kasus 1.
Berbagai upaya dilakukan untuk memperoleh air minum yang layak atau
memenuhi syarat, diantaranya penggunaan kayu secang yang merupakan tanaman banyak manfaat diantaranya dapat
digunakan sebagai obat tradisonal. Kayu secang secara empiris diketahui memiliki banyak
khasiat penyembuhan, seperti di China kayu secang digunakan sebagai obat luka,
pendarahan dan gangguan fungsi menstruasi, selain itu juga digunakan sebagai
obat penenang, meyembuhkan disentri dan diare 4. Penelitian Srinivasan et al., (2012) dalam
(Radhiansyah dkk, 2018) menunjukkan bahwa kayu secang memiliki kandungan kimia
berupa steroid, tanin, fenol saponin dan flavonoid yang dapat digunakan sebagai
antibakteri 5. Penelitian Yusianti dan Susanti (2017) rebusan kayu
secang memiliki aktivitas antibakteri, hal ini disebabkan adanya kandungan
tanin yang memiliki mekanisme antimikroba6.
Penelitian oleh
Radhiansyah dkk (2018) untuk mengetahui konsentrasi kayu secang (Caesalpinia sappan L.) terhadap total
mikroba, pH dan organoleptic daging ayam, menunjukkan air rebusan kayu secang
30 gr dengan 100ml air (konsentrasi 30%) yang disimpan selama 12 jam bisa
menurunkan ALT pada daging ayam. Penurunan jumlah angka ALT mikroba pada daging
ayam yang mendapat perlakuan air rebusan kayu secang diduga karena kayu secang
memiliki aktivitas antimikroba yang mendapat perkembangan mikroorganisme pada
daging ayam. Untuk itu peneliti melakukan upaya menurunkan kandungan bakteri Coliform yang terdapat pada air minum
menggunakan kayu secang sebagai Upaya Penanganan Kasus Diare.
B.
Rumusan Masalah
Berdasarkan
masalah tersebut peneliti merumuskan masalah “Bagaimanakah Kemampuan Kayu Secang (Caesalpinia sappan L.) dalam Menurunkan Bakteri Coliform pada Air Minum sebagai Upaya Penanggulangan
Kasus Diare?
C.
Tujuan
1.
Tujuan Umum
Tujuan
umum penelitian adalah mengetahui kemampuan kayu secang (Caesalpinia sappan L.) dalam menurunkan bakteri Coliform
pada air minum sebagai upaya penanganan kasus diare
2.
Tujuan Khusus
Adapun tujuan
khususnya adalah :
a.
Mengetahui kemampuan kayu secang dalam menurunkan bakteri Coliform pada air minum yang dimasak.
b.
Mengetahui kemampuan kayu secang dalam menurunkan bakteri Coliform
pada air minum isi ulang.
D.
Manfaat
a.
Bagi Peneliti
Sebagai bahan referensi
dan sebagai penunjang dalam bidang pendidikan (kesehatan) dalam hal penyakit
berbasis lingkungan yang terjadi di masyarakat.
b.
Bagi instansi/kampus
Sebagai referensi bagi
pembaca (mahasiswa maupun tenaga pendidik) dalam menambah wawasan serta
khasanah pengetahuan dalam bidang penyakit berbasis lingkungan
c.
Bagi Instansi Pemerintah
Sebagai bahan masukan,
dasar pengambilan kebijakan serta penanganan dalam menangani permasalahan
kesehatan khususnya penyakit diare yang terjadi di Kota Makassar berdasarkan
hasil pemetaan.
BAB II
RENSTRA DAN PETA JALAN
PENELITIAN POLTEKKES KEMENKES
A.
Politeknik Kesehatan Kemenkes Makassar
Politeknik Kesehatan Kemenkes Makassar (Poltekkes
Makassar) merupakan perguruan tinggi berbentuk politeknik. Politeknik Kesehatan Kemenkes Makassar memiliki rencana
induk penelitian buat dicapai dalam tenggang
5 (lima)
tahun.
Rencana Induk Riset menanggapi kasus pengelolaan serta peningkatan riset di
tingkatan institusi, semacam membagikan arah strategi peningkatan riset ke
depan, kajian serta topik riset yang hendak dibesarkan, dan sasaran serta
target aktivitas riset Politek Kesehatan Kemenkes Makassar.
Saat ini penelitian yang dilaksanakan mengacu pada Visi
Pusat Penelitian Poltekkes Makassar adalah menjadi Pusat Penelitian berbasis
teknologi terapan kesehatan yang inovatif dan terkemuka di jenjang nasional
maupun internasional dibidang kesehatan urban. Penelitian dasar unggulan
perguruan tinggi yang akan dilaksanakan ini mengacu pada Sasaran utama Pusat
Penelitian Poltekkes Makassar sebagai wujud dari visinya ialah membentuk Pusat
Penelitian dan pengabdian kepada masyarakat berbasis teknologi terapan inovatif dan terkemuka di tingkat nasional
maupun internasional.
Bersumber pada target strategi yang sudah diresmikan
diformulasikan peta pengembangan Pusat
Riset Poltekkes Makassar selaku Pusat Riset, pelaksanaan serta pengambangan ipteks terkemuka. Peta strategi peningkatan
digunakan selaku acuan dalam perumusan strategi peningkatan ataupun program
pengembangan riset di Poltekkes Makassar
yaitu kesehatan urban dalam hal ini meningkatkan akses dan mutu dasar
daerah urban terutama berdampak pada Penelitian dasar unggulan perguruan Tinggi
akan menghasilkan luaran berupa TTG, HAKI dan publikasi ilmiah sebagimana alur
yang dijelaskan pada gambar dibawah ini.
Penjabaran bidang penelitian di lingkungan Poltekkes Kemenkes Makassar diterjemahkan melalui pembentukan payung-payung penelitian yang merupakan arah penelitian di Poltekkes Makassar yang telah disesuaikan dengan isu strategis nasional dan sumber daya yang dimiliki sarana dan prasarana. Payung penelitian di Poltekkes Makassar dibagi menjadi 4 bidang sebagai mana terlihat pada gambar 2.2.
Gambar 2.2 menjelaskan empat bidang kajian adalah
preventif, promotif, kuratif dan rehabilitatif. Penelitian bidang gizi,
kesling, analis kesehatan, dan kebidanan akan masuk ke ranah preventif dan
kuratif sedangkan penelitian bidang keperawatan, fisioterapi, keperawatan gigi
dan farmasi ke ranah kuratif dan rehabilitatif. Penelitian-penelitian tersebut
dapat menjadi penelitian payung/kolaboratif agar dapat memaksimalkan peran masing-masing
profesi dalam penanganan masalah kesehatan sehingga status kesehatan urban
tetap terjaga atau lebih ditingkatkan.
B.
Jurusan Kesehatan Lingkungan Poltekkes Kemenkes Makassar
Roadmap Penelitian
Jurusan Kesehatan Lingkungan adalah Kerangka Kerja Kajian Penelitian Kesehatan
Lingkungan yang berfokus pada Konsep Pokok yaitu Pencegahan Penyakit yang
berbasis lingkungan yang bermuara pada kesehatan masyarakat Kota maupun
Desa.
TINJAUAN PUSTAKA
A. Diare
WHO mendefinisikan diare merupakan kondisi
buang air besar dengan
frekuensi yang tidak normal yaitu lebih sering dari biasanya dengan kotoran bersifat lembek atau cair. Kondisi
tersebut disebabkan oleh infeksi virus atau bakteri, kuman pada saluran
pencernaan. Penyakit ini dapat menular
dari orang ke orang lain yang memiliki kebersihan buruk atau melalui
makanan / minuman yang
terkontaminasi (WHO, 2019).
Departeman Kesehatan RI mendefinisikan
diare merupakan “kondisi buang air
besar dengan konsistensi lembek atau cair serta frekuensi lebih sering dari biasanya”
(Kementerian Kesehatan RI, 2011). Diare disebut sebagai gejala infeksi saluran
pencercanaan yang ditandai dengan kondisi buang
air besar lebih sering yaitu 3 kali atau lebih per hari dalam keadaan tinja yang cair (Sumampow, 2017).
Berdasarkan definisi di atas maka dapat disimpulkan bahwa diare merupakan
salah satu penyakit
menular yang disebabkan oleh infeksi bakteri atau virus
pada saluran pencernaan. Orang yang terkena diare mengalami buang air
besar lebih sering dari biasanya dengan kondisi fases cair atau lembek.
2.
Epidemiologi Diare
WHO menetapkan diare sebagai penyakit
menular penyebab utama kematian balita di dunia. Diare menyebabkan sebanyak 525.000 balita meninggal
setiap tahunnya (WHO, 2019 ). Tahun 2016 dilaporkan 90% kematian akibat diare terjadi di Asia Selatan dan Sub Sahara.
Penelitian Melinda (2018) yang dilakukan
pada 195 negara melaporkan angka kematian balita yang disebabkan diare tertinggi terjadi
di negara Chad sebesar
499 kematian per 100.000 penduduk, kemudian Republik Afrika Tengah sebesar 384 kematian per 100.000 penduduk
dan Niger yaitu sebesar 376 kematian per 100.000 penduduk.
Indonesia merupakan salah satu negera di
kawasan Asia Tenggara yang masih
menghadapi permasalahan diare. Data RISKESDAS tahun 2018 menunjukkan pravelensi diare sebesar 6,8% berdasarkan
diagnosis tenaga kesehatan.
Berdasarkan data tersebut juga diketahui sebesar 11,5% kasus diare terjadi pada kelompok usia 1-4
tahun. Selain itu ditemukan diare lebih sedikit terjadi pada perempuan dibandingkan pada laki-laki
(Kementrian Kesehatan RI, 2018).
Profil
kesehatan Indonesia tahun 2020 menunjukkan persentase cakupan
pelayanan diare tahun 2020 sebesar 28,9%. Adapun berdasarkan data tersebut diketahui provinsi yang
memiliki cakupan pelayanan penderita diare
balita tertinggi yaitu Nusa Tenggara Barat sebesar 61,4%, sementara provinsi yang memiliki cakupan pelayanan
penderita diare terendah yaitu Sulawesi Utara sebesar 4%. (Kementerian Kesehatan
RI, 2021).
Provinsi Kalimantan Tengah termasuk
provinsi yang memiliki
cakupan pelayanan penderita
diare dibawah target program yaitu 20%. Cakupan
pelayanan di Kalimantan Tengah sebesar 16,5% (Kementerian Kesehatan RI, 2021). Adapun untuk kasus diare balita di Kalimantan Tengah tergolong tinggi yaitu sebesar
50,9% pada tahun 2019 (Dinas Kesehatan
Provinsi Kalimantan Tengah, 2019). Hal ini menyebabkan diare termasuk
dalam permasalahan kesehatan
masyarakat yang memerlukan intervensi tepat untuk menurunkan kasus.
3.
Etiologi Diare
Penyebab diare terbagi menjadi
4 penyebab yaitu diantaranya (Manalu,
2021)
1. Faktor infeksi:
dibagi menjadi dua bagian yaitu infeksi internal dan infeksi parenteral. Infeksi
Internal merupakan infeksi
pada saluran pencernaan makanan yang disebabkan oleh infeksi bakteri,
virus, maupun parasit. Adapun
infeksi yang terjadi diluar saluran pencernaan
makanan seperti Otitis Media Akut (OMA) tonsitilitis/ tonsiloparingitis disebut dengan infeksi parenteral.
Infeksi parenteral banyak ditemukan pada
anak usia dibawah 2 tahun.
2. Faktor malabsorpsi: gangguan penyerapan zat makanan seperti
karbohidrat, lemak dan protein. Namun sebagian besar dari bayi ditemukan
lebih intoleran disakarida pada laktosa dalam
susu.
3. Faktor makanan:
disebabkan karena konsumsi makanan basi, beracun atau alergi makanan
4. Faktor psikologis: Faktor psikologis juga dapat memhubungani kejadian diare pada balita, faktor psikologis tersebut seperti
rasa takut dan cemas.
4.
Cara Penularan Diare
Diare termasuk penyakit yang memiliki
cara penularan sangat mudah. Agent penyebab diare dapat ditularkan
melalui air maupun makanan yang sudah tekontaminasi. Maka dari itu penting sekali menjaga kebersihan sumber air dan makanan yang dikonsumsi. Selain itu tangan yang
tidak bersih juga dapat menjadi media
penularannya. Meskipun kebersihan air dan makanan telah dijaga apabila
dalam proses penggunaannya menggunakan tangan kotor maka penularan juga bisa terjadi.
Pada balita diare dapat terjadi
akibat penggunaan botol susu yang tidak baik
(Irwan, 2017a).
5.
Klasifikasi dan Gejala Diare
Diare terbagi menjadi beberapa
klasifikasi diantaranya berdasarkan lamanya,
masalah dan derajat dehidrasi. Berdasarkan lamanya diare terbagi menjadi diare akut dan diare kronis. Apabila diare terjadi kurang dari 14 hari maka disebut diare akut. Sebaliknya
apabila diare terjadi lebih dari 14 hari
maka termasuk diare kronis. Berdasarkan masalah, diare dibagi menjadi kasus
disentri dan diare persinsten atau kronis. Pengklasifikasian diare balita juga dihubungkan dengan derajat dehidrasi
yang dapat muncul saat seseorang
mengalami diare. Berikut
klasfikasi diare berdasarkan derajat dehidrasi serta gejala atau tandanya
sebagai berikut (Kementerian Kesehatan RI, 2011).
1. Diare tanpa dehidrasi, kondisi
dimana balita diare mengalami kehilangan cairan <5% berat badan.
Balita yang mengalami kondisi diare tanpa dehidrasi biasanya
masih aktif, minum seperti biasa, kondisi mata tidak cekung, dan turgor kembali segera
2. Diare dehidrasi
ringan / sedang, kondisi ini ditandari dengan balita diare kehilangan carian 5-10% berat badan. Selain itu balita
terlihat gelisah, mata cekung,
memiliki rasa selalu minum dan turgor kembali
lambat
3. Diare dehidrasi
berat, pada klasifikasi ini balita diare mengalami kehilangan >10% berat badan, selain itu
balita mengalami lelu hingga tidak
sadar, mata cekung, kemudian balita diare memilki rasa malas untuk minum, dan turgor kembali
sangat lambat.
6.
Dampak Diare Bagi Balita
Balita
yang mengalami diare dapat mengalami
hal berikut; (Widjaja, 2002)
1. Dehidrasi
Balita yang menderita diare dapat mengalami
dehidrasi. Dehidrasi menimbulkan gangguan metabolism tubuh hingga kematian.
Balita yang mengalami
dehidrasi akan muncul gejalaseperti kulit berkerut, mata cekung, ubun-ubun
cekung serta mulut
dan bibir kering.
2. Gangguan Pertumbuhan
Diare menyebabkan balita mengalami pengeluaran
zat gizi dalam tubuh sementara asupan makanan terhenti. Akibatnya balita kekurangan gizi dan pertumbuhannya terganggu.
7.
Pencegahan Diare
Diare
pada balita dapat dicegah dengan beberapa upaya. Upaya tersebut
diantaranya (WHO, 2019)
a.
Akses air minum yang aman
b.
Sanitasi yang baik
c.
Sering mencuci tangan
pakai sabun
d.
Memberikan ASI ekslusif
selama enam bulan pertama kehidupan
e.
Memperhatikan kebersihan pribadi
dan makanan
f.
Memberikan pendidikan kesehatan
tentang cara penularan
diare
g.
Melakukan Vaksinasi Rotavirus
B. Pengertian Air Minum
Air
Minum adalah air yang melalui pengolahan atau tanpa pengolahan yang memenuhi
syarat kesehatan dan dapat langsung diminum. Air minum digunakan untuk
keperluan minum, masak, mencuci peralatan makan dan minum, mandi, mencuci bahan
baku pangan yang akan dikonsumsi, peturasan, dan Ibadah. Air minum isi ulang
adalah air yang diproduksi melalui proses penjernihan dan tidak memiliki merek
(BPS, 2018).
Air
minum merupakan air yang dapat dikonsumsi atau layak diminum oleh makhluk hidup
utamanya manusia ketika air tersebut telah melalui proses pengolahan yang
bertahap. Pengolahan air minum ini menjadi sangat penting karena fungsinya yang
vital dalam proses perubahan kualitas, dimana air tidak layak minum diubah
menjadi layak minum.
Air
minum memiliki berbagai macam sumber dalam pemenuhan kebutuhannya ditengah
kehidupan masyarakat. Keragaman sumber air minum tersebut dimulai dari air
gunung, air tanah, air sungai, dan juga air laut. Umumnya sumber air minum ini
mengandung unsur pencemaran yang tinggi. Hal ini merujuk pada aktivitas aerobik
dan anaerobik di dalam badan air tersebut. Besarnya volume cairan limbah
buangan yang bermuara pada badan air menjadi alasan ilmiah sumber air minum
tersebut tinggi akan bahan pencemar (Hakim, dkk 2020).
C. Syarat Kualitas Air Minum
Menurut Peraturan Menteri Kesehatan Republik Indonesia Nomor
2 Tahun 2023, standar kualitas air minum adalah sebagai berikut :
a.
Persyaratan Bakteriologis
Parameter bakteriologis merupakan jumlah maksimum Escherichia Coli atau fecal coli dan total bakteri coliform per 100ml sampel. Persyaratan tersebut harus dipenuhi oleh air
minum, air yang masuk sistem distribusi dan air pada sistem distribusi. Air minum tidak boleh mengandung kuman-kuman
patogen dan parasit seperti kuman-kuman typus,
kolera, dysentri dan gastroenteritis. Untuk mengetahui adanya bakteri patogen dapat dilakukan dengan pengamatan terhadap ada tidaknya
bakteri Escherichia Coli yang merupakan
bakteri pencemar air. Parameter ini terdapat pada air yang tercemar oleh tinja
manusia dan dapat menyebabkan gangguan pada manusia berupa penyakit perut
(diare) karena mengandung bakteri patogen.
Proses penghilangannya dilakukan dengan desinfeksi.
b.
Persyaratan Kimiawi
Bahan kimia dalam air minum tidak boleh ada dalam jumlah
yang melebihi batas. Bahan kimia yang dimaksud tersebut antara lain: (Della
Haki,2022)
1) pH
pH air minum adalah faktor penting bagi air minum, pada pH
8,5 akan mempercepat terjadinya korosi pada pipa distribusi air minum.
c.
Persyaratan Fisik
Secara
fisik air minum wajib tidak terasa, tidak beraroma, serta bening. Syarat lain
yang harus dipenuhi diantaranya yaitu:
1) Bau
Bau
disebabkan oleh zat dalam air seperti gas H2S, NH3,
senyawa fenol, klorofenol dan lain – lain. Selain mengganggu dari segi
estetika, juga beberapa senyawa dapat bersifat karsinogenik. Pengukuran secara
kuantitatif bau sulit diukur karena hasilnya terlalu subjektif.
2) Kekeruhan
Kandungan
Total Suspended Solid, termasuk organik dan anorganik, inilah yang menyebabkan
kekeruhan. Sementara zat organik berasal dari pelapukan tanaman dan hewan,
sedangkan zat anorganik biasanya berasal dari pelapukan batuan dan logam. Zat
organik dapat menjadi makanan bakteri sehingga mendukung perkembangannya.
Kekeruhan dalam air minum tidak boleh lebih dari 5 NTU.
3) Warna
Untuk
menghindari keracunan air minum sebaiknya tidak berwarna, bening dan jernih
serta untuk alasan estetik. Air yang telah mengandung senyawa organik seperti
daun, potongan kayu, rumput akan memperlihatkan warna kuning kecoklatan, oksida
besi akan menyebabkan warna air menjadi kemerah – merahan, dan oksida mangan
akan menyebabkan warna air kecoklatan.
D. Sumber
Pencemar Air Minum
Adapun sumber pencemar air minum menurut Setijo Pitojo,dan
Eling Purwantoyo (2002) antara lain sebagai berikut :
- Pencemar Fisik
Air yang mengalami pencemar fisik dapat dilihat dari bau, rasa,
kekeruhan dan warna.
1) Bau
Bau
pada air dapat disebabkan oleh benda asing yang masuk ke air seperti bangkai
binatang, bahan buangan, dalam senyawa organik oleh bakteri. Pada peristiwa
penguraian senyawa ataupun organik yang dilakukan oleh bakteri tersebut
dihasilkan gas-gas berbau menyengat dan bahkan ada yang beracun seperti bau
tersebut terhirup lebih dari 10 menit, dapat mengakibatkan kematian. Pada
peristiwa peruraian zat organik berakibat meningkatkan penggunaan oksigen
terlarut di air (BOD) Biological Oksigen
Demand oleh bakteri, dan mengurangi Jointitas kandungan oksigen terlarut
(DO = Dissolved Oxygen) di dalam air
urada air minum tidak boleh ada bau yang merugikan pengguna air.
2) Kekeruhan
Kekeruhan adalah efek optik yang terjadi jika sinar
membentuk material tersuspensi di dalam air. Kekeruhan air terjadi karena
adanya partikel hidup atau mati, berukuran besar ataupun berukuran kecil yang
berada di dalam air, misalnya ganggang pada air waduk, atau lumpur yang terbawa
pada air tanah saat turun hujan. Kekeruhan walaupun hanya sedikit
dapat menyebabkan warna lebih tua dari warna yang sesungguhnya. Tingkat kekeruhan dipengaruhi
oleh pH air. Kekeruhan pada air minum pada umumnya telah diupayakan sedemikian
rupa sehingga air menjadi jernih.
3) Warna
Warna pada air sebenarnya terdiri dari warna asli dan warna
tampak. Warna asli atau true color,
adalah warna yang hanya disebabkan oleh substansi terlarut. Warna yang tampak
atau apparent color, adalah
mencakup warna substansi yang terlarut berikut zat tersuspensi di dalam air
tersebut. Warna air dapat ditimbulkan oleh ion besi, mangan, humus, biota air,
plankton, dan limbah industri. Warna pada air di laboratorium diukur
berdasarkan warna standar yang telah diketahui konsentrasinya. Warna air asli
sukar dihilangkan. Pada air minum disyaratkan tidak berwarna, sehingga berupa air
bening dan jernih.
b.
Pencemar Kimia
Pencemar kimia ada dua kelompok yaitu zat kimia anorganik
dan zat kimia organik. Kedua zat tersebut ditekan volume dan konsentrasinya
sampai batas limit, sehingga walaupun terpaksa masih ada di dalam air, tidak membahayakan bagi
pengguna air minum. Keberadaan komponen pencemar kimia tersebut diukur atas
tingkat toksisitasnya terhadap kesehatan
manusia. Pencemar atau polutan yang termasuk bahan berbahaya dan beracun yang
dikenal singkatan B3, yaitu merkuri, timah hitam, tembaga, kadmium, dan senyawa kimia nitrit, nitrat, phenol, detergen, serta
elemen-elemen radioaktif.
- Pencemar Biologis
Pencemar Biologis pada air terdiri dari atas Bakteri, Virus,
dan Kapang (jamur).
1) Bakteri
Bakteri merupakan kelompok mikroorganisme yang penting pada
penanganan air limbah. Bakteri adalah jasad renik yang sederhana, tidak
berwarna, satu sel, berukuran antara 0,5 -6 µm. Bakteri berbiak dengan cara
membelah diri, setiap 15 - 30 menit pada lingkungan yang ideal. Rumus kimia
untuk mewakili sel bakteri adalah C5H7O2N atau
C75H105O30N15P. Rumus empiris
tersebut hanya menyatakan proporsi rata-rata dari komponen-komponen pengisi
utama dalam sel bakteri. Bakteri dapat bertahan hidup dan berkembang biak dengan
cara memanfaatkan makanan terlarut dalam air. Bakteri tersebut berperan dalam
dekomposisi unsur organik di alam dan menstabilkan buangan organik. Bakteri
yang mendapatkan perhatian dalam air minum terutama adalah Escherichia coli, yaitu coliform
yang dijadikan sebagai indikator dalam penentuan kualitas air minum.
2) Virus
Virus
adalah berupa makhluk yang bukan organisme sempurna, antara benda hidup dan
tidak hidup, berukuran sangat kecil antara 20-100 nanometer atau sebesar 1/50
kali ukuran bakteri. Virus terdiri dari lapisan pelindung protein yang
mengelilingi serabut asam nukleat dan bersifat parasit obligat. Reproduksinya
melibatkan sel hidup yang terinfeksi dan mengarahkan reaksi-reaksi sintesis
dari sel hidup tersebut untuk memproduksi partikel virus baru. Perhatian utama
virus pada air minum adalah terhadap kesehatan masyarakat, karena walaupun
hanya satu viron mampu menginfeksi dan menyebabkan penyakit. Virus berada dalam
air bersama tinja terinfeksi, sehingga menjadi sumber infeksi. Beberapa penyakit
virus yang ditularkan melalui air (water
borne disease) antara lain polio, dan hepatitis.
3) Kapang (Jamur)
Kapang adalah mikroorganisme nonfotosintesis, bersel jamak, bercabang, dan memanfaatkan sisa
makanan terlarut di air. Kapang sesuai hidup di limbah yang mempunyai pH rendah
antara 4-5, kadar air rendah, nitrogen rendah, dan nutrient tertentu
tidak ada, tidak aktif dalam suasana anaerob. Komposisi sel kapang dapat dinyatakan dengan rumus
empiris dengan C10H17O6N. Pada umumnya peranan
kapang pada penanganan air minum kurang dominan.
E. Bakteri Coliform
1. Pengertian Bakteri Coliform
Coliform merupakan bakteri Gram negatif, berbentuk batang, bersifat aerob maupun
anaerob fakultatif, tidak berspora, dapat memfermentasi laktosa dan membentuk
gas. Bakteri ini terdiri atas 4 genus dari famili Enterobacteriaceae yaitu Escherichia, Enterobacter, Citrobacter
dan Klebsiella. Coliform merupakan flora normal pada usus makhluk hidup dan umumnya
tidak menimbulkan penyakit. Sehingga perhitungan mikrobiologi yang digunakan
adalah perhitungan secara kuantitatif. Perhitungan secara kuantitatif digunakan
pada mikroba yang kurang bersifat patogen. Analisis kuantitatif atau pengujian
jumlah mikroorganisme pada pangan merupakan salah satu pengujian yang umum dan
rutin diterapkan dalam rangka pengawasan dan pengendalian mutu dan keamanan
pangan (Isnawaida, 2020).
(Sumber : Isnawaida, 2020)
Gambar 3.1. Bakteri Coliform
Makanan yang kurang terjamin kebersihannya akan sangat mudah
terkontaminasi. Kontaminasi juga dapat terjadi karena penyimpanan makanan
terlalu lama. Penyimpanan yang lama akan menyebabkan tumbuhnya bakteri patogen
seperti Coliform. Bakteri Coliform dapat tumbuh dan berkembang
biak pada suhu penyimpanan 7°C hingga 60°C. Coliform
dalam makanan dan minuman merupakan indikator terjadinya kontaminasi akibat
penanganan makanan dan minuman yang kurang baik. Adanya Coliform di dalam makanan menunjukkan kemungkinan adanya mikroba
yang bersifat toksik bagi kesehatan. Gangguan yang ditimbulkan pada manusia
adalah mual, nyeri perut, muntah, diare, buang air besar berdarah, demam tinggi
bahkan pada beberapa kasus bisa kejang dan kekurangan cairan atau dehidrasi.
Kelompok bakteri Coliform,
umumnya juga berasal dari kotoran hewan dan manusia, tetapi di antara kelompok coliform terdapat golongan yang lebih
tahan panas atau sering disebut sebagai thermotolerant Coliform atau sering sebagai fecal coliform (coliform yang
berasal dari tinja). Fecal Coliform
mampu memfermentasikan laktosa dan menghasilkan asam dan gas pada suhu 45 ±
2. Faktor-Faktor yang mempengaruhi
Keberadaan Bakteriologis Pada Air Minum Isi Ulang.
Agar
air minum aman digunakan upaya untuk mengendalikan faktor resiko terjadinya
kontaminasi yang berasal dari tempat, peralatan dan penjamah terhadap air minum
agar aman dikonsumsi. Hal-hal yang perlu diperhatikan dalam Depot Air Minum Isi
Ulang, seperti: (Della Haki, 2022)
a. Tempat Pada Depot Air Minum Isi Ulang
Guna
mencegah menjadi tempat perkembangbiakan hama dan vektor, bangunan gedung/depot
harus kuat dan kokoh, selain itu konstruksi lantai bersih dan tidak licin,
bagian yang selalu kontak dengan air dibuat miring ke arah saluran pembuangan
air agar tidak membentuk genangan air, dinding bersih permukaan yang selalu
berkontak dengan air harus kedap air agar tidak menjadi lembab, dinding
berwarna terang agar vektor dan binatang pengganggu tidak bersarang karena
vektor dan binatang pengganggu lebih suka di tempat yang gelap dan lembab,
pintu dapat dibuka dan ditutup dengan baik serta dapat mencegah masuknya binatang
pengganggu,ventilasi dibuat dengan baik agar ada pertukaran udara yang baik dan
tidak lembab.
b. Penjamah Depot Air Minum
Guna
mencegah kontak dengan sumber penyakit dan dapat mengakibatkan pencemaran
terhadap air minum Penjamah harus dengan keadaan sehat. Setiap kali melayani
konsumen Penjamah harus berperilaku higienis dan saniter seperti mencuci tangan
dengan sabun dan air yang mengalir setiap melayani konsumen karena meskipun
tampaknya ringan dan sering disepelekan namun terbukti cukup efektif dalam upaya
mencegah kontaminasi pada makanan dan minuman, pencucian tangan dengan sabun
dan diikuti dengan pembilasan akan menghilangkan banyak mikroba yang terdapat
pada tangan, menggunakan pakaian kerja yang bersih dan tidak merokok pada saat
melayani konsumen karena dapat menyebabkan pencemaran terhadap air minum.
Penjamah harus melakukan pelatihan agar memahami hal-hal yang jika terjadi
kontaminasi dapat memindahkan bakteri dan virus patogen dari tubuh, atau sumber
lain ke makanan serta minuman.
c. Peralatan Depot Air Minum
Guna
memusnahkan kuman yang melekat pada perlengkapan yang dipakai untuk mengisi DAM
Peralatan depot air minum isi ulang harus disterilisasi terlebih dahulu dulu
dengan menggunakan ultraviolet. Ultraviolet yang tidak sesuai antara kapasitas
dan kecepatan air yang melewati penyinaran ultraviolet, sehingga air terlalu
cepat, maka bakterinya tidak mati. Idealnya untuk air minum kapasitas
ultraviolet minimal adalah tipe 8 GPM 9 galon per menit) berarti kran pengisian
depot digunakan untuk mengisi maksimal 1,5 botol per menit 16.
F. Kayu Secang (Caesalpinia
sappan L.)
1. Pengertian Kayu Secang
Kayu secang (Caesalpinia sappan L.) merupakan salah
satu tumbuhan dalam famili
caesalpiniaceae yang secara empiris diketahui memiliki banyak khasiat
penyembuhan dan sering dikonsumsi oleh masyarakat sebagai minuman kesehatan.
Kayu secang juga digunakan secara luas dalam pengobatan tradisional. Kayu
secang termasuk salah satu tumbuhan herbal yang tumbuh alami di hutan-hutan
sekunder di indonesia. Kayu secang (Caesalpinia sappan l)
mengandung berbagai senyawa yang memberikan manfaat tertentu bagi kesehatan dan
digunakan dalam pengobatan tradisional untuk mengobati berbagai kondisi,
seperti penyakit kulit, masalah pencernaan, peradangan, dan bahkan untuk
meningkatkan sistem kekebalan tubuh.Tanaman ini mengandung senyawa
fenolik seperti flavonoid, yang memiliki aktivitas antioksidan untuk menangkap
radikal bebas. Ada beberapa komponen senyawa bioaktif yang terdapat pada kayu
secang yaitu brazilin, brazilein,
3-O-metilbrazilin, sappanonem, chalcone, sappancalchone, delta-α-phellandrene,
oscimene, asam galat, resin, resorsin, minyak atsiri, serta komponen umum
yang lain seperti karbohidrat, asam
amino, serta asam palmitat yang jumlahnya sangat kecil. Senyawa-senyawa
utama yang menyebabkan air yang merendam kayu secang berwarna merah adalah
brazilin, brazilein, dan protosappanin. Ketiga senyawa ini adalah jenis
flavonoid yang dominan dalam kayu secang. Saat kayu secang direndam dalam air,
senyawa-senyawa ini larut dan menghasilkan warna merah yang intens. Brazilin
dan brazilein khususnya dikenal sebagai senyawa-senyawa yang bertanggung jawab
atas warna merah yang khas dari kayu secang.
Secang (Caesalpinia
sappan L.) merupakan tanaman
yang sudah lama banyak digunakan sebagai obat tradisional.
Secara konvensional, pemanfaatan tanaman secang oleh masyarakat juga cukup
luas. Selain daun, buah, dan biji, bagian yang sering digunakan
adalah potongan atau serutan kayunya (Sarah R. Megumi,2020).
Air
secang merupakan minuman favorit bagi sebagian besar masyarakat di Sulawesi
Selatan, khususnya Suku Bugis-Soppeng yang berada di pedesaan. Bahkan
masyarakat membudidayakan tumbuhan secang sehingga dikenal dengan sebuah daerah
di Kecamatan Marioriwawo dengan nama Ale’ Seppang yang berate ‘Hutan Secang’
walaupun sebelumnya khasiat yang terkandung dalam kayu ini belum diketahui.
Masyarakat menggunakan serpihan kayu secang sebagai campuran air minuman
sehari-hari dengan cara memasukkan serpihan kayu ke dalam teko atau tempat air
minum. Air minum yang telah dicampur dengan serpihan kayu secang akan berwarna
kemerahan sehingga air menjadi tampak segar dan jernih.
2. Klasifikasi Secang
Secang termasuk jenis perdu
dengan ketinggian lima sampai sepuluh meter. Batangnya bulat dan berwarna
hijau kecoklatan. Ciri daunnya majemuk menyirip ganda dengan panjang
25 hingga 40 sentimeter. Sementara jumlah anak daun sebanyak
10 sampai 20 pasang dan letaknya berhadapan. Anak daun tidak
bertangkai, berbentuk lonjong, berujung bulat, dan berwarna hijau.
Buah secang termasuk buah polong dengan panjang delapan sampai
sepuluh sentimeter, lebar tiga hingga empat sentimeter. Ujung buahnya ibarat
paruh dan berisi tiga sampai empat biji. Apabila masak warnanya akan berubah
menjadi hitam.
Biji secang berwarna kuning kecoklatan
dan berbentuk bulat memanjang. Panjangnya antara 15-18 mm, lebar 8-11 mm, dan
tebal 507 mm( Sarah R Megumi,2020).
Pertumbuhan secang tersebar
di India, Malaysia, dan Indonesia. Pada setiap daerah tanaman herbal
ini mempunyai nama yang berbeda, antara lain seupeueng (Aceh), sepang
(Gayo), sopang (Batak), cang (Bali), sepel (Timor), kayu sema (Manado), sapang
(Makassar), roro (Tidore).
Klasifikasi
kayu secang menurut Heyne, dalam Nurcahaya 2021 adalah sebagai berikut :
Kingdom :
Plantae
Divisio : Spermatophyta
Sub divisio : Angiospermae
Klas : Dicotyledonae
Sub klas : Aympetalae
Ordo : Rosales
Famili : Leguminosae
Genus : Caesalpinia
Spesies : Caesalpinia sappan L
1.
Kandungan Kayu Secang
Menurut Sudarsono et al, (2002) Tanaman kayu secang memiliki
kandungan kimia seperti Tanin, Brasilin, Flavonoid Alkaloid yang bermanfaat
sebagai anti bakteri yaitu :
a. Tanin
Tanin dapat bersifat sebagai anti bakteri dan astringen
Toksisitas tanin dapat merusak membran sel bakteri, senyawa astringent tanin
dapat menginduksi pembentukan kompleks senyawa ikatan terhadap enzim atau
substrat mikroba, dan pembentukan suatu kompleks ikatan tanin terhadap ion
logam menambah daya toksisitas tanin (Nurcahaya,2021).
b. Brazilin
Brazilin mempunyai aktivitas sebagai
antibakteri dan bakteriostatik. Senyawa brazilin
juga merupakan spesifik dari kayu secang yang dapat memberikan warna merah
kecoklatan jika teroksidasi atau dalam suasana basa (Nurcahaya,2021).
c. Fenolik
Senyawa fenolik berfungsi dalam pembuatan obat-obatan (bagian dari produksi aspirin, pembasmi
rumput liar, dan lainnya). Selain itu fenol juga berfungsi dalam sintesis senyawa aromatis yang terdapat dalam batu bara. Turunan
senyawa fenol (fenolat) banyak terjadi secara alami sebagai flavonoid dan
senyawa fenolat yang lain.
d. Flavonoid
Flavonoid yang terkandung dalam kayu secang berperan sebagai
anti kanker, antivirus, antiinflamasi, diuretik dan antihipertensi. Saponin
juga terkandung di dalam kayu secang yang berfungsi sebagai antivirus, anti
bakteri, dan meningkatkan kekebalan tubuh Flavonoid berfungsi sebagai anti
bakteri dengan cara membentuk senyawa kompleks terhadap protein extraseluler
yang menghambat integritas membran sitoplasma sel bakteri (Juliantina et al.,
2008). Membran sitoplasma mengalami kerusakan sehingga ion H+ dari senyawa
flavonoid akan menyerang gugus polar (gugus fosfat) sehingga molekul fosfolipid akan terurai menjadi gliserol,
asam karboksilat dan asam fosfat. Hal ini mengakibatkan fosfolipid tidak mampu mempertahankan bentuk membran sitoplasma
akibatnya membran sitoplasma akan bocor dan
bakteri akan mengalami hambatan pertumbuhan hingga kematian (Nurcahaya,2021).
e. Alkaloid
Alkaloid memiliki kemampuan antibakteri dengan cara
menghambat pembentukan komponen penyusun peptidoglikan
pada sel bakteri, sehingga lapisan dinding sel tidak terbentuk secara utuh
(Juliantina et al., 2008). Sintesis peptidoglikan
akan terganggu sehingga pembentukan sel tidak sempurna karena tidak mengandung peptidoglikan dan dinding selnya hanya
meliputi membran sel. Susunan dinding sel bakteri adalah lapisan peptidoglikan (Retnowati et al., 2011) Peptidoglikan tersusun dari N-assetil glukosamin dan N-asetil asam muramat, yang terikat
melalui ikatan 1,4-glikosida. Pada N-asetil asam muramat terdapat rantai
pendek asam amino: alanin, glutamat,
diaminopimetal, lisin dan alamin,
yang terikat melalui ikatan peptida. Peranan ikatan peptida ini sangat penting
dalam menghubungkan antara rantai satu dengan rantai lain. Mekanisme kerusakan
dinding sel bakteri terjadi dengan mencegah ikatan silang peptidoglikan pada
tahap akhir sintesis dinding sel, yaitu dengan cara menghambat protein
pengikat. Protein ini merupakan enzim dalam membran plasma sel bakteri yang
secara normal terlibat dalam penambahan asam amino yang berikatan silang dengan
peptidoglikan dinding sel bakteri dan
memblok aktivitas enzim transpesidase
yang membungkus ikatan silang polimer-polimer gula panjang yang membentuk
dinding sel bakteri. Keadaan ini menyebabkan sel bakteri mudah mengalami lisis, baik berupa fisik
maupun osmotik dan menyebabkan kematian sel (Nurcahaya,2021).
BAB
IV
METODE
PENELITIAN
A.
Jenis dan Desain Penelitian
Jenis
penelitian yang digunakan adalah penelitian eksperimen skala laboratorium
menggunakan kayu secang (Caesalpinia sappang L) 1 gr dalam 1 liter air dengan waktu kontak 12 jam untuk menurunkan
kandungan Coliform pada air minum dimasak dan
air minum isi ulang dengan rancangan pemeriksaan sebelum dan sesudah
proses penambahan kayu secang, dengan replikasi lima kali dan dianalisis
menggunakan Uji Wilcoxon.
B.
Lokasi dan Waktu Penelitian
1.
Lokasi Penelitian
Lokasi penelitian berada di Kota Makassar, di
mana dilakukan pengambilan sampel dari beberapa Lokasi Sumur gali dan Depot
yang berada di Kota Makassar kemudian melakukan pemeriksaan sampel air minum
sebelum dan sesudah penambahan kayu secang di Laboratorium Jurusan Kesehatan
Lingkungan Poltekkes Kemenkes Makassar.
2.
Waktu Penelitian
Waktu
penelitian disini terbagi menjadi
a.
Tahap Persiapan
1)
Pengambilan data awal kejadian
panyakit diare di Kota Makassar
2)
Pembuatan Proposal penelitian
dan rincian anggaran biaya (RAB)
3)
Pembuatan MoU (Memorandum of
Understanding)
4)
Perizinan kepada pihak instansi
setempat
b.
Tahap Pelaksanaan
Penelitian ini akan dilaksanakan selama 1
tahun yang dimulai pada tahun 2024.
C. Kerangka Teori Penelitian
Standar Kualitas Air Minum
Menurut Permenkes No.2 Tahun 2023
menurunkan Bakteriologis
Efektif
Tidak Efektif
Tanin dan Flavonoid
Senyawa kayu secang yang
berfungsi sebagai anti bakteri
Air Minum
Kualitas Air Minum
Kimia
Biologi
Fisik
Bakteri
Virus
Jamur
Bakteri Coliform
Faktor-Faktor Yang
Mempengaruhi Bakteriologis pada Air Minum
Pemanfaatan Kayu Secang
|
|
|
Standar Kualitas Air Minum
Menurut Permenkes No.2 Tahun 2023 menurunkan Bakteriologis |
|
Efektif |
|
Tidak Efektif |
|
Tanin dan Flavonoid |
|
Senyawa kayu secang yang
berfungsi sebagai anti bakteri |
|
Air Minum |
|
Kualitas Air Minum |
|
Kimia |
|
Biologi |
|
Fisik |
|
Bakteri |
|
Virus |
|
Jamur |
|
Bakteri Coliform |
|
Faktor-Faktor Yang
Mempengaruhi Bakteriologis pada Air Minum |
|
Pemanfaatan Kayu Secang |
D.
Kerangka Konsep
E.
Definisi Operasional dan Kriteria Obyektif
- Variabel Bebas, variabel yang mempengaruhi
variabel terikat (independen) dalam penelitian ini yaitu air minum yang
digunakan berasal dari air minum yang dimasak dan air minum isi ulang yang paling efektif
dalam menurunkan bakteri Coliform pada
air minum di rumah tangga, dengan penambahan kayu secang 1 gr dalam 1
liter air minum dengan waktu kontak 12 jam.
- Variabel Terikat, variabel yang dipengaruhi
oleh variabel bebas (dependen) dalam penelitian ini adalah penurunan coliform pada air minum isi ulang
dengan penambahan kayu secang secang (Caesalpinia
sappan L.).
- Variabel Pengganggu, variabel yang ikut
berpengaruh pada variabel terikat dalam penelitian ini variabel pengganggu yaitu pH,
dan Bau.
F.
Definisi Operasional dan Kriteria
Objektif
1.
Diare pada penelitian ini adalah gejala yang timbul disebabkan
oleh bakteri sehingga terjadi buang air besar lebih dari 3 kali dan ditandai
dengan tinja yang encer.
2.
Air Minum Isi Ulang pada penelitian ini yaitu air minum isi ulang
yang dikonsumsi rumah tangga
3.
Kayu Secang (Caesalpinia
sappan L.) pada
penelitian ini yaitu kayu secang yang berbentuk serutan sebanyak 1 gr
dalam 1 liter air dengan waktu kontak 12 jam, 24 jam, dan 36 jam yang digunakan
untuk menurunkan bakteri coliform
pada air minum isi ulang
Kriteria Objektif :
a.
Efektif :
Kayu secang dengan waktu kontak 12
jam efektif menurunkan bakteri coliform pada
air minum yang dimasak dan air minum isi ulang sesuai dengan syarat permenkes
RI. No. 2 tahun 2023 yaitu 0 CFU/100ml.
b.
Tidak Efektif
Kayu secang dengan waktu kontak 12
jam tidak efektif menurunkan bakteri Coliform
pada air minum yang dimasak dan air minum isi ulang sesuai dengan syarat permenkes
RI. No. 2 tahun 2023 yaitu 0 CFU/100ml.
4.
Bakteri Coliform pada
penelitian ini yaitu bakteri yang tumbuh pada media
laktosa dalam tabung durham ditandai dengan adanya gelembung gas yang diperoleh
dari hasil pemeriksaan laboratorium
5.
pH pada penelitian ini yaitu pH pada sampel air minum sesuai
dengan persyaratan permenkes yaitu 6,5 - 8,5 diukur menggunakan pH meter pada
hasil pemeriksaan laboratorium.
Kriteria Objektif :
a.
Efektif :
Efektif apabila pH sampel air minum
yaitu 6,5 - 8,5 sesuai dengan syarat permenkes No. 2 Tahun 2023.
b.
Tidak Efektif
Tidak efektif apabila pH sampel air
minum tidak sesuai dengan syarat permenkes No.2 Tahun 2023.
6.
Bau pada penelitian ini yaitu tidak berbau sesuai dengan syarat
permenkes RI No. 2 Tahun 2023.
Kriteria Objektif :
a.
Efektif
Efektif apabila sampel air tidak
berbau sesuai dengan syarat permenkes No. 2 Tahun 2023.
b. Tidak Efektif
Tidak Efektif apabila sampel air berbau sesuai dengan syarat
permenkes No 2 Tahun 2023.
G.
Cara Pengumpulan Data
1.
Data Primer
Data primer diperoleh dari hasil pengamatan dan pemeriksaan
laboratorium pada pemeriksaan bakteri Coliform
pada Air Minum Isi Ulang.
2.
Data Sekunder
Data sekunder diperoleh melalui
banyak referensi seperti buku, jurnal, hasil penelitian (KTI dan
Skripsi), artikel-artikel, dan dari internet yang memiliki keterkaitan dengan penelitian ini.
H.
Pengolahan dan Analisa Data
1.
Pengolahan Data
Pengolahan data pada penelitian ini
dilakukan dengan menggunakan alat bantu komputer dan alat bantu lainnya yang
disajikan dalam bentuk narasi.
2.
Analisis Data
Adapun data yang diperoleh dari hasil pemeriksaan
laboratorium dan dianalisis secara statistic dengan menggunakan uji wilcoxon yang
dijelaskan dalam bentuk tabel, grafik, dan narasi yang menggambarkan secara
menyeluruh proses yang telah dicapai selama
proses penelitian dilakukan.
BAB V
HASIL DAN
PEMBAHASAN
A.
Hasil
Penelitan Kemampuan kayu
secang (Caesalpinia sappan l) sebanyak 1 gr dalam 1 liter air minum yang
dimasak dan air minum isi ulang dalam
menurunkan bakteri Coliform pada 5 sampel air minum yang di masak dan 5 sampel
air minum isi ulang yang diambil di depot air minum isi ulang Kota Makassar
dengan replikasi 5 kali diperoleh hasil sebagai berikut :
Tabel 5.1. Analisis Hasil Pemeriksaan Bakteri Coliform pada Sampel Kontrol dan Awal
pada Air Minum yang di Masak dan Air Minum Isi Ulang dengan Penambahan Kayu
Secang dengan Waktu Kontak 12 Jam
|
Sampel |
Mean |
SD |
Min-Max |
P-Value |
|
Kontrol Sampel |
240.00 |
0.000 |
240-240 |
1.000 |
|
Sampel Awal |
240.00 |
0.000 |
240-240 |
Sumber
: Data Primer 2024
Tabel 5.1. menunjukkan bahwa rata-rata hasil
pemeriksaan bakteri Coliform pada
sampel kontrol yaitu 240.00 sedangkan rata-rata
sampel awal yaitu 240.00. Berdasarkan hasil uji statistik menggunakan
Uji T diperoleh p-value = 1.000. Nilai p yang diperoleh lebih besar dari α =
0,05 (p > 0.05) maka Ho diterima artinya tidak terdapat perbedaan sampel
Kontrol dan Sampel Awal pemeriksaan bakteri Coliform air minum isi ulang dan
air minum yang dimasak.
Tabel
5. 2. Analisis Hasil
Pemeriksaan Bakteri Coliform pada Air
Minum yang di Masak dengan Penambahan Kayu Secang dengan Waktu Kontak 12 Jam
|
Sampel |
Mean |
SD |
Min-Max |
P-Value |
|
Sampel Air Masak |
0.00 |
0.000 |
0-0 |
0.025 |
|
Sampel Awal |
240.00 |
0.000 |
240-240 |
Sumber : Data Primer 2024
Tabel 5.2 menunjukkan
bahwa rata-rata hasil pemeriksaan bakteri Coliform
pada sampel Air masak yaitu 0,00 sedangkan rata-rata sampel awal yaitu 240.00. Berdasarkan hasil
uji statistik menggunakan Uji T diperoleh p-value = 0,025. Nilai p yang
diperoleh lebih kecil dari α = 0,05 (p > 0.05) maka Ho ditolak artinya
terdapat perbedaan sampel Air Minum yang dimasak dengan Sampel Awal pemeriksaan
bakteri Coliform pada sampel air minum yang dimasak.
Tabel 5.3. Analisis Hasil Pemeriksaan Bakteri Coliform pada Air Minum Isi Ulang dengan
Penambahan Kayu Secang dengan Waktu Kontak 12 Jam
|
Sampel |
Mean |
SD |
Min-Max |
P-Value |
|
Sampel AMIU |
0.00 |
0.000 |
0-0 |
0.025 |
|
Sampel Awal |
240.00 |
0.000 |
240-240 |
Sumber : Data Primer 2024
Berdasarkan tabel
5.3. menunjukkan bahwa rata-rata hasil pemeriksaan bakteri Coliform pada sampel
air minum isi ulang yaitu 0,00 sedangkan rata-rata sampel awal yaitu 240.00. Berdasarkan hasil
uji statistik menggunakan Uji T diperoleh p-value = 0,025. Nilai p yang
diperoleh lebih kecil dari α = 0,05 (p > 0.05) maka Ho ditolak artinya
terdapat perbedaan sampel Air Minum isi ulang dengan Sampel Awal pemeriksaan
bakteri Coliform pada sampel air minum yang dimasak.
Tabel 5.4. Hasil Pemeriksaan pH pada Air Minum yang di
Masak dan Air Minum Isi Ulang dengan penambahan kayu Secang dengan Waktu Kontak
12 Jam
|
Sampel |
Hasil Pemeriksaan pH |
||
|
Awal |
Kontrol |
Perlakuan |
|
|
Depot 1 |
7,6 |
7,5 |
7,3 |
|
Depot 2 |
7,7 |
7,6 |
7,4 |
|
Depot 3 |
7,5 |
7,5 |
7,1 |
|
Depot 4 |
7,8 |
7,8 |
7,6 |
|
Depot 5 |
7,6 |
7,6 |
7,2 |
|
Sumur 1 |
7,8 |
7,8 |
7,6 |
|
Sumur 2 |
7,6 |
7,5 |
7,3 |
|
Sumur 3 |
7,9 |
7,8 |
7,7 |
|
Sumur 4 |
7,9 |
7,9 |
7,8 |
|
Sumur 5 |
7,5 |
7,5 |
7,4 |
Sumber : Data Primer 2024
Tabel 5.4 menunjukkan pH pada sampel
awal, kontrol dan perlakuan dengan penambahan kayu secang pada air minum yang
dimasak dan air minum isi ulang berada dalam kondisi netral antara 7,1 sampai
7,9 dengan penurunan kadar pH 0,1 sampai 0,4.
B.
Pembahasan
Penelitian dengan judul “Kemampuan Kayu Secang (Caesalpinia sappan L.)
dalam Menurunkan Bakteri Coliform pada
Air Minum sebagai Upaya Penanggulangan Kasus Diare”. Pada penelitian ini
memakai sampel air minum isi ulang yang diambil dari 5 depot air minum isi
ulang yang berada di Jl. Wijaya Kusuma 1 Kelurahan Banta Bantaeng, Kecamatan
Rappocini, dan di Jl. Balana No. 17/10 Ke. Barana, Kota Makassar. Dan sampel
air minum yang dimasak diambil dari 5 air sumur warga di Jl. Rappocini,
Kecamatan Rappocini, Kota Makassar. Jenis penelitian menggunakan skala
laboratorium dengan variasi kayu secang (Caesalpinia sappan L.) 1 gr, dalam 1
liter air minum isi ulang dan air masak dengan waktu kontak 12 jam untuk
menurunkan bakteri coliform pada air minum isi ulang dan air masak dengan rancangan
pemeriksaan sebelum dan sesudah proses penambahan kayu secang dengan replikasi
/ pengulangan lima (5) kali. Pada penelitian dan pengamatan ini dilakukan di
Laboratorium Jurusan Kesehatan Lingkungan pada 4 Mei 2024 sampai 5 mei 2024,
metode yang digunakan yaitu dengan MPN Coliform (Tabung berganda).
1.
Kemampuan Kayu Secang dalam Menurunkan Balteri Coliform pada
Air Minum yang di Masak
Berdasarkan hasil penelitian yang
diperoleh dari laboratorium Jurusan Kesehatan Lingkungan. Pada bagian ini, akan
dilakukan analisis mendalam terhadap data yang telah diperoleh dan dikumpulkan.
Hasil pemeriksaan bakteri Coliform pada air masak dengan penambahan kayu secang
sebanyak 1 gr dalam 1 liter air minum yang dimasak kemudian dikontakkan selama
12 jam memperoleh hasil yaitu 0 CFU/100ml.
Adapun hasil pemeriksaan bakteri
coliform pada air minum yang dimasak
didapatkan hasil pada uji statistik terdapat perbedaan dengan sampel awal dan
sampel air minum yang dimasak, dengan
nilai p-value yaitu 0,025 artinya terdapat perbedaan dengan sampel awal dan
perlakuan. Sehingga kayu secang dikatakan mampu menurunkan bakteri Coliform
dengan hasil setelah perlakuan yaitu 0CFU/ 100ml.
Pada waktu kontak kayu secang
selama 12 jam Efektif menurunkan bakteri Coliform pada air minum yang dimasak
sesuai dengan PERMENKES RI NO.2 Th. 2023 yaitu 0 CFU/100ml. Merujuk pada
penelitian Nurcahaya (2021) dengan judul “Kemampuan Kayu Secang (Caesalpinia
sappan l) dalam Menurunkan Bakteri Coliform Pada Air Bersih” memakai dosis 1 gr
kayu secang dalam 1 liter air bersih dengan waktu kontak kayu secang 12 jam,
didapatkan persentase penurunan coliform yaitu 58,5%. Pada penelitian Nurcahaya
menyarankan bahwa kayu secang yang digunakan digunakan sebaiknya disiram
terlebih dahulu menggunakan air hangat atau direndam diair hangat agar senyawa
pada kayu secang bisa lebih cepat untuk bekerja.
Berdasarkan hasil penelitian oleh
Nurcahaya, penelitian ini memberikan hasil yang lebih efektif, karena kayu
secang pada penelitian ini dapat menurunkan bakteri Coliform pada air minum
sampai 0 CFU/100 ml.
Penurunan jumlah coliform dalam
air minum setelah penambahan kayu secang bisa disebabkan oleh beberapa faktor
salah satunya yaitu sifat anti mikroba yang terdapat pada kayu secang. Kayu
secang (Caesalpinia sappan l) memiliki sifat antimikroba alami. Senyawa-senyawa
aktif dalam kayu secang seperti flavonoid dan tanin telah dikenal memiliki
aktivitas antimikroba terhadap berbagai jenis bakteri, termasuk coliform.
Flavonoid merupakan salah satu senyawa alami yang banyak ditemukan dalam
tumbuhan-tumbuhan dan makanan yang menjanjikan untuk mengobati berbagai
penyakit seperti kanker, antioksidan, bakteri patogen, radang, disfungsi
kardio-vaskular, dan mempunyai kemampuan antioksidannya dalam mencegah
terjadinya luka akibat radikal bebas. Adapun cara kerja Flavonoid yaitu
flavonoid memiliki kemampuan untuk menghambat pertumbuhan bakteri melalui
beberapa mekanisme contohnya yaitu beberapa flavonoid dapat merusak membran sel
bakteri, menyebabkan kebocoran bahan-bahan penting dari dalam sel dan akhirnya
menyebabkan kematian bakteri. Efektivitas flavonoid dapat bervariasi tergantung
pada jenis flavonoid yang digunakan, konsentrasi, dan jenis bakteri coliform.
Senyawa tanin, yang merupakan
kelas senyawa polifenolik ditemukan dalam banyak tanaman seperti teh, anggur,
dan kulit kayu, dikenal memiliki berbagai efek biologis termasuk aktivitas
antibakteri. Berikut adalah penjelasan mengenai cara kerja tanin dalam
menurunkan bakteri coliform dalam air minum. Adapun cara kerja tanin yaitu
menghambat pertumbuhan bakteri melalui beberapa mekanisme utama yang
berhubungan dengan kemampuannya untuk berinteraksi dengan komponen sel bakteri.
Tanin memiliki kemampuan untuk berikatan dengan protein. Dalam konteks bakteri
coliform, tanin dapat berikatan dengan protein pada permukaan bakteri atau di
dalam sel bakteri. Ini dapat mengganggu fungsi protein-protein penting seperti
enzim yang terlibat dalam metabolisme atau sintesis dinding sel bakteri,
sehingga menghambat pertumbuhan atau bahkan membunuh bakteri. Tanin juga dapat
menyebabkan perubahan struktural pada membran sel bakteri. Pengikatan tanin
pada membran dapat mempengaruhi integritas membran, yang dapat menyebabkan
kebocoran bahan-bahan penting dari dalam sel, akhirnya menyebabkan kematian bakteri.
Tanin dapat ditambahkan dalam proses pengolahan air minum untuk menurunkan
konsentrasi bakteri coliform. Ini bisa dilakukan dengan menambahkan ekstrak
tanin ke dalam sistem filtrasi atau pengolahan air. Tanin juga digunakan dalam
proses koagulasi dan flokulasi untuk mengendapkan partikel dan kontaminan dari
air. Dengan mengendapkan partikel yang mungkin mengandung bakteri, tanin dapat
membantu dalam pemurnian air.
Sampel air untuk air minum yang
dimasak adalah sampel air sumur yang telah diketahui mengandung bakteri coliform.
Sehingga apabila tidak melalui proses pemasakan atau pengolahan yang baik dapat menyebabkan
penyakit. Penyebaran bakteri coliform dapat berasal dari manusia ke manusia
lain dengan cara melalui fekal oral yaitu manusia memakan makanan atau minuman
yang terkontaminasi feses manusia maupun hewan melalui air, tangan, maupun
lalat. Air sumur gali adalah istilah yang digunakan di Indonesia untuk merujuk
pada air yang diambil dari sumur yang digali secara manual. Sumur gali adalah
jenis sumur yang dibuat dengan menggali tanah hingga mencapai sumber air tanah.
Berbeda dengan sumur bor yang
menggunakan alat berat dan mesin untuk mengebor tanah, sumur gali umumnya lebih
sederhana dan sering kali digunakan di daerah yang tidak memiliki akses mudah
ke teknologi modern. Kualitas air dari sumur gali bisa bervariasi tergantung
pada kedalaman sumur, jenis tanah, dan kontaminasi yang mungkin ada. Biasanya,
air dari sumur gali perlu diuji dan mungkin perlu diperlakukan sebelum
dikonsumsi untuk memastikan keamanan dan kualitasnya.
Kelebihan dari penelitian untuk
pemeriksaan bakteri coliform pada air minum yang dimasak dengan penambahan kayu
secang waktu kontak 12 jam ini adalah total Coliform telah memenuhi syarat.
Adapun kelemahan dari penelitian
ini yaitu memerlukan waktu untuk dimasak terlebih dahulu dan terdapat perubahan
secara fisik pada air minum yang dimasak yang dihasilkan setelah penambahan
kayu secang. Salah satunya yaitu warna yang dihasilkan pada air minum yang
dimasak setelah penambahan kayu secang mengalami peningkatan.
Warna pada penelitian ini menjadi
kelemahan penelitian dikarenakan warna yang mencolok kemerahan yang
mempengaruhi kualitas fisik air minum. Senyawa-senyawa utama yang menyebabkan
air yang merendam kayu secang berwarna merah adalah brazilin, brazilein, dan
protosappanin. Ketiga senyawa ini adalah jenis flavonoid yang dominan dalam
kayu secang. Saat kayu secang direndam dalam air, senyawa-senyawa ini larut dan
menghasilkan warna merah yang intens. Brazilin dan brazilein khususnya dikenal
sebagai senyawa-senyawa yang bertanggung jawab atas warna merah yang khas dari
kayu secang. Brazilein adalah senyawa utama yang memberikan warna merah pada
air rendaman kayu secang. Brazilin adalah senyawa flavonoid yang terbentuk dari
proses oksidasi dan konversi senyawa-senyawa yang lebih kompleks dalam kayu
secang. Brazilein memiliki warna merah yang khas dan merupakan salah satu
indikator utama aktivitas pewarnaan dalam ekstrak kayu secang. Brazilein adalah
senyawa yang juga berkontribusi pada warna merah. Brazilein adalah produk
sampingan dari proses pemecahan brazilin dan berperan dalam stabilitas warna
serta karakteristik pewarnaan. Protosappanin adalah senyawa utama yang berperan
dalam memberikan warna merah pada air rendaman kayu secang (Caesalpinia sappan
l). Protosappanin dapat berinteraksi dengan senyawa lain dalam air atau dengan
bahan organik, yang bisa mempengaruhi warna akhir. Misalnya, adanya ion logam
atau polifenol lain bisa mempengaruhi intensitas warna atau kestabilan warna.
Proses ini melibatkan ekstraksi senyawa dari kayu secang ke dalam air, dan
berbagai faktor seperti pH, suhu, dan konsentrasi dapat mempengaruhi warna yang
dihasilkan. Akan tetapi warna dari kayu secang ini tidak menjadi permasalahan
dikarenakan air yang dihasilkan pada penelitian ini tidak berbau dan tidak
berasa sehingga apabila kandungan bakterinya 0 CFU/100ml maka air minum
tersebut masih aman untuk dikonsumsi. warna pada kayu secang tidak secara
langsung mempengaruhi kualitas air minum. Seperti yang diketahui bahwa warna
kayu secang biasanya terkait dengan senyawa-senyawa pewarna alami yang
terkandung di dalamnya, seperti brazilein dan brazileinon. Warna merah atau
merah kecoklatan yang dihasilkan oleh senyawa-senyawa ini biasanya digunakan
sebagai pewarna alami dalam makanan, minuman, atau tekstil.
Adapun salah satu produk yang
terbuat dari kayu secang adalah wedang uwuh yang menjadi minuman herbal yang
kaya akan manfaat kesehatannya. Wedang Uwuh adalah minuman tradisional dari
Indonesia, khususnya dari Yogyakarta. Nama "Wedang Uwuh" berasal dari
bahasa Jawa, di mana "wedang" berarti minuman dan "uwuh"
berarti sampah atau serpihan, yang merujuk pada tampilan minuman ini yang
dipenuhi dengan berbagai potongan bahan herbal. Bahan-bahan utama yang biasanya
digunakan untuk membuat Wedang Uwuh adalah Kayu Secang. Seperti pada penelitian
ini, kayu secang dimanfaatkan sebagai anti mikroba untuk menurunkan bakteri
coliform pada air minum. Maka dari itu penggunaan kayu secang dalam jumlah yang
sesuai dan dalam proses yang dikontrol dengan baik dapat memberikan warna dan
manfaat tambahan pada air minum tanpa mempengaruhi kualitasnya secara negatif.
pH yang dihasilkan pada pemeriksaan air minum yang dimasak ini memiliki
penurunan setelah penambahan kayu secang. Akan tetapi penurunannya masih
bernilai memenihi syarat kualitas air minum sesuai dengan peraturan PERMENKES
RI NO. 2 Th. 2023 yaitu 6,5-8,5. Sehingga pH yang dihasilkan masih bersifat
netral.
2.
Kemampuan Kayu Secang dalam Menurunkan Balteri Coliform pada
Air Minum Isi Ulang
Berdasarkan hasil yang diperoleh
dari Laboratorium Jurusan Kesehatan Lingkungan pada pemeriksaan bakteri
coliform air minum isi ulang dengan waktu kontak kayu secang selama 12 jam
diperoleh hasil awal yaitu >240 CFU/100ml dan setelah perlakuan yaitu 0
CFU/100ml.
Adapun hasil pemeriksaan bakteri
coliform pada air minum isi ulang didapatkan hasil pada uji statistik terdapat
perbedaan dengan sampel awal dan sampel air
minum yang dimasak, dengan nilai p-value yaitu 0,025 artinya terdapat
perbedaan dengan sampel awal dan perlakuan. Sehingga kayu secang dikatakan
mampu menurunkan bakteri Coliform dengan hasil setelah perlakuan yaitu 0CFU/
100ml.
Pada penelitian yang dilakukan
oleh Radiansyah, (2018) menggunakan kayu secang untuk menurunkan nilai ALT pada
daging ayam, didapatkan hasil air rebusan kayu secang 30gr dalam 100ml air
(konsentrasi 30%) yang disimpan selama 12 jam dapat menurunkan ALT pada daging
ayam.
Kayu secang (Caesalpinia sappan l)
mengandung berbagai senyawa yang memberikan manfaat tertentu bagi kesehatan dan
digunakan dalam pengobatan tradisional untuk mengobati berbagai kondisi,
seperti penyakit kulit, masalah pencernaan, peradangan, dan bahkan untuk
meningkatkan sistem kekebalan tubuh. Beberapa penelitian telah menunjukkan
bahwa kayu secang memiliki potensi untuk memiliki efek antimikroba, yang
berarti bahwa ekstrak atau senyawa yang terkandung dalam kayu secang dapat
membantu menghambat pertumbuhan bakteri, termasuk bakteri coliform. Coliform
merupakan bakteri Gram negatif, berbentuk batang, bersifat aerob maupun anaerob
fakultatif, tidak berspora, dapat memfermentasi laktosa dan membentuk gas.
Bakteri Coliform hidup di saluran pencernaan manusia maupun hewan yang berdarah
panas. Coliform dalam makanan dan minuman merupakan indikator terjadinya
kontaminasi akibat penanganan makanan dan minuman yang kurang baik. Adanya
Coliform di dalam makanan dan minuman menunjukkan kemungkinan adanya mikroba
yang bersifat toksik bagi kesehatan.
Air minum isi ulang adalah air
minum yang dihasilkan dari proses pengolahan air bersih atau air baku menjadi
air yang layak konsumsi dengan cara pengisian ulang ke dalam wadah atau galon
yang telah digunakan sebelumnya. Proses pengolahan ini biasanya dilakukan di
depot air minum isi ulang dengan menggunakan berbagai teknik penyaringan dan
sterilisasi, seperti filter karbon aktif, filter pasir, ultraviolet (UV), dan
ozonisasi, untuk memastikan air tersebut aman dan bebas dari kontaminan
berbahaya.
Kelebihan dari penelitian ini
untuk pemeriksaan bakteri coliform pada air minum isi ulang dengan penambahan
kayu secang waktu kontak 12 jam ini adalah total Coliform telah memenuhi
syarat. Adapun kelemahan dari penelitian ini yaitu kualitas fisik yang melebihi
syarat peraturan PERMENKES No, 2 Tahun 2023. Akan tetapi tidak mempengaruhi
kualittas fisik air minum. Warna yang dihasilkan pada pemeriksaan setelah
penambahan kayu secang selama 12 jam tidak memenuhi syarat, akan tetapi tidak
menjadi permasalahan karena warna yang dihasilkan adalah warna alami yang
berasan dari senyawa-senyawa kayu secang. Seperti halnya teh yang diseduh akan
memberikan warna kecolatan pada air minum tergantung pada jenis dan cara
penyeduhannya.
Beberapa senyawa yang dapat
menjadi pengaruh peningkatan warna terhadap air minum dengan beberapa
diantaranya adalah brazilin, brazilein, protosappanin, dan flavonoid. Brazilin
adalah golongan senyawa yang memberi warna merah pada secang dengan struktur
C16H14O5 dalam bentuk kristal. Brazilin diduga mempunyai efek anti-inflamasi
dan anti bakteri, Winda Jumara (2018). Senyawa flavonoid adalah kelompok senyawa
fitokimia yang umumnya ditemukan dalam berbagai jenis tumbuhan, seperti buah,
sayuran, dan herba. Ada berbagai jenis senyawa flavonoid, dan di antaranya
adalah senyawa antosianin, Nomer, et. al., (2019). Antosianin adalah pigmen
flavonoid yang memberi warna merah, ungu, atau biru pada buah-buahan dan
sayuran tertentu. Mereka berperan sebagai antioksidan dan sering kali dikaitkan
dengan manfaat kesehatan. Beberapa manfaat senyawa flavonoid contohnya sebagai
antioksidan yang membantu melindungi sel-sel tubuh dari kerusakan yang
disebabkan oleh radikal bebas.
Penurunan pH disebabkan oleh
beberapa faktor, yang pertama yaitu karena lamanya air minum didiamkan dan
lamanya pengontakan dengan kayu secang yang bersifat asam. Selama proses
perendaman kayu secang dalam air, apabila terlalu lama direndam makan akan
terjadi proses dekomposisi bahan organik dalam kayu secang. Proses dekomposisi
ini melibatkan aktivitas mikroorganisme, seperti bakteri dan jamur, yang
berfungsi untuk memecah komponen-komponen organik dalam kayu menjadi
senyawa-senyawa yang lebih sederhana. Salah satu produk dari proses dekomposisi
tersebut adalah senyawa-senyawa asam organik. Senyawa-senyawa ini, seperti asam
asetat, asam format, dan asam propionat, yang memiliki sifat asam sehingga dapat
meningkatkan konsentrasi ion hidrogen (H+) dalam larutan. Akibatnya, pH dalam
air minum dapat menurun secara signifikan karena peningkatan konsentrasi ion
hidrogen.
BAB V
PENUTUP
A.
KESIMPULAN
Berdasarkan hasil pemeriksaan dapat ditarik kesimpulan bahwa Kayu
Secang(Caesalpinia sappan L) mampu menurunkan bakteri Coliform pada air yang
dimasak dan air minum isi ulang sesuai dengan standar PERMENKES R.I No.
2 Tahun 2023 yaitu 0 CFU/100ml. Adapun uraiannya yaitu: 1) Kayu secang
(Caesalpinia sappan L) dengan waktu kontak 12 jam pada air minum yang dimasak
mampu menurunkan bakteri Coliform dengan persentase penurunan 100%, 2) Kayu
secang (Caesalpinia sappan L) dengan waktu kontak 12 jam pada air minum yang
dimasak mampu menurunkan bakteri Coliform sampai dengan persentase penurunan
100%.
B.
SARAN
Adapun
saran yaitu; 1) Peneliti selanjutnya, disarankan untuk variasikan waktu yang
lebih singkat, dosis yang lebih sedikit, dan melakukan pengukuran titik jenuh
kayu secang, 2) Bagi Masyarakat, diharapkan menggunakan kayu
secang 1gr dalam air minum dengan waktu
kontak 12 jam guna meningkatkan kualitas
air minum sebagai upaya pencegahan penyakit diare.
DAFTAR PUSTAKA
BPS,
2023. Persentase Rumah Tangga Indonesia Berdasarkan Sumber Air Minum Utama
(Maret 2023). Online (Mayoritas Rumah Tangga Indonesia Konsumsi Air Minum
Kemasan (katadata.co.id) Diakses pada 1 November 2023.
BTKLPP.
Pemetaan Penyakit Diare Akut Sulawesi Selatan 2022. Data Penyakit. 2022;(1).
Catur
Puspawati D. Kesehatan Lingkungan Teori dan Aplikasi. In: Jakarta : Buku
Kedokteran EGC. ; 2019.
Divya,
Solomon. Effects of some water quality parameters especially total coliform and
fecal coliform in surface water of Chalakudy river. 2016;33(1):1-12.
Dwi
Kusuma, Wahyuni dkk. Toga Indonesia. In:
Jurnal Kesehatan Lingkungan. Online; 2016. doi:10.47718/jkl.v10i2.1167
Harsa
I made S. Hubungan Antara Sumber Air dengan Kejadian Diare Padawarga Kampung
Baru Ngagelrejo Wonokromo Surabaya. Published online 2019.
Ingrid
Suryanti Surono. Pengantar Keamanan Pangan Untuk Industri Pangan.; 2018. https://jurnal.stikes-alinsyirah.ac.id/index.php/kesmas
Imran
Pambudi, 2022. Direktorat Pencegahan dan Pengendalian Penyakit Menular Kementerian
Kesehatan. The Acceptance of Islamic Hotel Concept in Malaysia: A Conceptual
Paper, 3(July), 1–119.
(http://download.garuda.kemdikbud.go.id/article.php?article=2652619&val=24585&title.pdf)
Diakses pada 2 Januari 2024.
Isnawaida,
2020. Deteksi Bakteri Coliform, Total Plate Count (Tpc) Dan Ph Pada Telur Ayam
Dari Pasar Tradisional Maros. Jurnal Peternakan, 2(2), 1–37.
Istiqomah,
2022. Optimasi Metode Ekstraksi Zat Pewarna Alami Dalam Kayu Secang
(Caesalpinia Sappan L.) Dengan Metode Ultrasound Assisted Extraction (Uae).
Skripsi. Diploma Thesis, Politeknik Negeri Lampung. Online
http://repository.polinela.ac.id/id/eprint/4038 Diakses pada 10 januari 2023
Mudlikah
S, Aditama L. Asuhan Kebidanan Kegawatdaruratan Pada Anak. In: Asuhan Kebidanan
Kegawatdaruratan Pada Anak. ; 2019.
Muh.
Nurul Ma’arif,2018. Analisis Kualitas Air Minum Isi Ulang Di Kota Makassar.
Online (https://core.ac.uk/download/pdf/77630836.pdf). Diakses pada 9 November
2023.
Nabilah
Muhamad, Mayoritas Rumah Tangga Indonesia Konsumsi Air Minum Kemasan. Online
(Mayoritas Rumah Tangga Indonesia Konsumsi Air Minum Kemasan (katadata.co.id)
Diakses pada 9 November 2023.
Nomer,
et al, 2019. Kandungan Senyawa Flavonoid Dan Antosianin Ekstrak Kayu Secang
(Caesalpinia Sappan L.) Serta Aktivitas Antibakteri Terhadap Vibrio Cholerae.
Jurnal Ilmu dan Teknologi Pangan. 216-225. 8 (2). 2019. (Online)
https://ojs.unud.ac.id/index.php/itepa/article/view/50320/29934 Diakses pada 10
Januari 2024.
Nurcahaya,
2021. Kemampuan Kayu Secang Dalam Menurunkan Kandungan Bakteri Coliform pada
Air Bersih. Skripsi. Makassar. Poltekkes Kemenkes Makssar.
Permenkes.
Peraturan Menteri Kesehatan Nomor 2 Tahun 2023. 2023;(55).
Radhiansyah
M. Pengaruh Konsentrasi Kayu Secang (Caesalpinia Sappan L.) Terhadap Total Miktoba,
PH Dan Organoleptik Daging Ayam. J. Sains Dan Teknologi Pangan.; 2018.
Savitfri,
L., Dewi, S.S. and Wilson, W. (2020) ‘Pengaruh Lama Penyimpanan Pada Lemari
Pendingin Terhadap Jumlah Coliform dan Escherichia coli Air Minum Isi Ulang’,
Universitas Muhammadiyah Semarang, pp. 1–6. Available at:
http://repository.unimus.ac.id/3273/. Diakses pada 10 Mei 2024
Silviani
Y, Handayani S. Pengaruh Variasi Kombinasi Rebusan Kayu Secang (Caesalpinia
sappan L.). J Heal Sains. Published online 2017.
Siregar
UR. Analisa Bakteri Coliform Metode Most Probable Number (MPN) Pada Air Minum
Isi Ulang Di Jalan Anwar Idris Tanjungbalai.; 2018.
Suhartati,
Ramdana S. Secang (Caesalpinia sappan L.) ; Tumbuhan Herbal Kaya Antioksidan. J
Ilmu Kesehat Masy. 2016;10(04):217-229. doi:10.33221/jikm.v10i04.860
Sulistryorini
RAD dan L. Analisis Kualitas Bakteriologis Air Minum Isi Ulang Di Kelurahan
Sememi, Kecamatan Benowo. Indones J Public Heal. Published online 2017.
Trilestari
I. Uji Daya Hambat Ekstrak Kayu Secang (Caesalpinia sappan Linn) terhadap
Bakteri Steptococcus sanguinis. Published online 2021. doi:10.31934/mppki.v2i3.
Winda
Jumara, 2018. Pengaruh Kondisi Ph Dan Perbandingan Rempah Terhadap
Karakteristik Minuman Serbuk Secang Online (https://repository.unpas.ac.id/33611/2/ARTIKEL.pdf)
Diakses Pada 1 Mei 2024.
Wiwid
Widyaningsih, suharyono dkk. 2016.
Analisis Total Bakteri Coliform Di Perairan Muara Kali Wiso Jepara.; 2016.







