Selasa, 18 Maret 2025

 LAPORAN AKHIR PENELITIAN

PENELITIAN PEMULA


KEMAMPUAN  KAYU SECANG (Caesalpinia sappan l.)DALAM MENURUNKAN BAKTERI COLIFORM  PADA AIR MINUM SEBAGAI UPAYA PENANGGULANGAN KASUS DIARE

 

TIM PENGUSUL

Khiki Purnawati Kasim, S.ST.,M.Kes

NIDN: 4002117901

Rostina S, S.ST.,M.Kes

NIDN: 4019087601

Stientje, SKM.,M.KM

 

 

 

KEMENTERIAN KESEHATAN REPUBLIK INDONESIA

POLTEKKES KEMENKES MAKASSAR

KESEHATAN LINGKUNGAN

TAHUN 2024






RINGKASAN

Kota Makassar merupakan wilayah dengan kasus diare terbanyak di Sulawesi Selatan berdasarkan pemetaan penyakit yang berpotensi menjadi KLB tahun 2022 oleh BTKLPP Kota Makassar. Air yang mengandung bakteri dalam jumlah yang besar dapat menimbullkan penyakit pada manusia atau hewan ternak yang memakainya. Untuk itu digunakan kayu secang yang mengandung bahan aktif tanin, flavanoid dan brazilin sebagai antimikroba.

Tujuan penelitian ini adalah untuk mengetahui kemampuan kayu secang (Caesalpinia sappan L.) dalam menurunkan bakteri Coliform pada air minum (air di masak dan air isi ulang) sebagai upaya penangan kasus diare dengan metode eksperimen laboratorium menggunakan 1 gr kayu secang setiap 1 liter air dengan waktu kontak 12 jam dan replikasi lima kali.

Kesimpulan penelitian ini adalah informasi kemampuan kayu secang dalam menurunkan bakteri Coliform pada air minum sebagai upaya penanganan kasus diare. Hasil penelitian ini akan dipublikasikan dalam 1 artikel jurnal ber ISSN, selain itu diharapkan dapat dijadikan sumber referensi oleh peneliti baik dalam dan luar negeri, dosen dan mahasiswa khususnya dalam bidang keilmuan penyehatan makanan dan minuman.

Target luaran yang akan dicapai dalam penelitian pemula ini berupa luaran wajib yakni publikasi di jurnal nasional ber ISSN yang rencananya akan dipublikasikan di jurnal Sulolipu Sinta 4. Uraian TKT dalam penelitian ini adalah TKT 2 dengan TKT Akhir adalah TKT 3 yang bertujuan untuk penelitian dasar dengan menggali kemampuan  kayu secang dalam menurunkan bakteri pada air minum serta untuk pembuktian konsep secara analisis maupun eksperimental.

Kata Kunci : Air Minum, Coliform, Kayu Secang


BAB I

PENDAHULUAN

A.    Latar Belakang

Air menjadi kebutuhan pokok yang terus-menerus dibutuhkan untuk memenuhi kebutuhan sehari-hari baik itu untuk mencuci, memasak, minum, mandi dan sebagainya. Kualitas air menjadi hal yang perlu diperhatikan dalam penggunaannya, terutama penggunaan sebagai sumber air minum. Berdasarkan Permenkes RI No. 2 Tahun 2023 tentang Peraturan Pelaksanaan Peraturan Pemerintah Nomor 66 Tahun 2014 Tentang Kesehatan Lingkungan, untuk kualitas air minum kadar maksimum yang diperbolehkan untuk Total Coliform yaitu 0 CFU/100 ml 2.

Kandungan bakteri patoghen dalam jumlah yang besar pada air dapat menimbulkan penyakit pada manusia atau hewan ternak yang memakainya. Misalnya bakteri saluran pencernaan seperti bakteri Cholera, Thypus, Para Thypus, Disentry, dsb. Dimana penyakit-penyakit  tersebut dapat menular melalui air. Salah satu penyakit yang disebabkan oleh bakteri Coliform adalah diare. (Riskesdas 2013 dalam 3.

Hasil pemetaan penyakit berpotensi KLB di Provinsi Sulawesi Selatan tahun 2022 oleh BTKLPP Makassar dapat diketahui 2 penyakit terbanyak yakni Diare akut dan Influenza. Kasus diare terbanyak adalah Kota Makassar sebesar 4.611 kasus 1.

Berbagai upaya dilakukan untuk memperoleh air minum yang layak atau memenuhi syarat, diantaranya penggunaan kayu secang yang merupakan  tanaman banyak manfaat diantaranya dapat digunakan sebagai obat tradisonal. Kayu secang secara empiris diketahui memiliki banyak khasiat penyembuhan, seperti di China kayu secang digunakan sebagai obat luka, pendarahan dan gangguan fungsi menstruasi, selain itu juga digunakan sebagai obat penenang, meyembuhkan disentri dan diare 4. Penelitian Srinivasan et al., (2012) dalam (Radhiansyah dkk, 2018) menunjukkan bahwa kayu secang memiliki kandungan kimia berupa steroid, tanin, fenol saponin dan flavonoid yang dapat digunakan sebagai antibakteri 5. Penelitian Yusianti dan Susanti (2017) rebusan kayu secang memiliki aktivitas antibakteri, hal ini disebabkan adanya kandungan tanin yang memiliki mekanisme antimikroba6.

Penelitian oleh Radhiansyah dkk (2018) untuk mengetahui konsentrasi kayu secang (Caesalpinia sappan L.) terhadap total mikroba, pH dan organoleptic daging ayam, menunjukkan air rebusan kayu secang 30 gr dengan 100ml air (konsentrasi 30%) yang disimpan selama 12 jam bisa menurunkan ALT pada daging ayam. Penurunan jumlah angka ALT mikroba pada daging ayam yang mendapat perlakuan air rebusan kayu secang diduga karena kayu secang memiliki aktivitas antimikroba yang mendapat perkembangan mikroorganisme pada daging ayam. Untuk itu peneliti melakukan upaya menurunkan kandungan bakteri Coliform yang terdapat pada air minum menggunakan kayu secang sebagai Upaya Penanganan Kasus Diare.

B.     Rumusan Masalah

Berdasarkan masalah tersebut peneliti merumuskan masalah “Bagaimanakah Kemampuan  Kayu Secang (Caesalpinia sappan L.) dalam Menurunkan Bakteri Coliform  pada Air Minum sebagai Upaya Penanggulangan Kasus Diare?

C.    Tujuan

1.      Tujuan Umum

Tujuan umum penelitian adalah mengetahui kemampuan kayu secang (Caesalpinia sappan L.) dalam menurunkan bakteri Coliform pada air minum sebagai upaya penanganan kasus diare

2.      Tujuan Khusus

Adapun tujuan khususnya adalah :

a.       Mengetahui kemampuan kayu secang dalam menurunkan bakteri Coliform pada air minum yang dimasak.

b.      Mengetahui kemampuan kayu secang dalam menurunkan bakteri Coliform pada air minum isi ulang.

 

 

 

D.    Manfaat

a.      Bagi Peneliti

Sebagai bahan referensi dan sebagai penunjang dalam bidang pendidikan (kesehatan) dalam hal penyakit berbasis lingkungan yang terjadi di masyarakat.

b.      Bagi instansi/kampus

Sebagai referensi bagi pembaca (mahasiswa maupun tenaga pendidik) dalam menambah wawasan serta khasanah pengetahuan dalam bidang penyakit berbasis lingkungan

 

c.       Bagi Instansi Pemerintah

Sebagai bahan masukan, dasar pengambilan kebijakan serta penanganan dalam menangani permasalahan kesehatan khususnya penyakit diare yang terjadi di Kota Makassar berdasarkan hasil pemetaan.

 

 

 

 

BAB II

RENSTRA DAN PETA JALAN PENELITIAN POLTEKKES KEMENKES

A.    Politeknik Kesehatan Kemenkes Makassar

Politeknik Kesehatan Kemenkes Makassar (Poltekkes Makassar) merupakan perguruan tinggi berbentuk politeknik. Politeknik Kesehatan Kemenkes Makassar memiliki rencana induk penelitian buat dicapai dalam  tenggang 5 (lima) tahun. Rencana Induk Riset menanggapi kasus pengelolaan serta peningkatan riset di tingkatan institusi, semacam membagikan arah strategi peningkatan riset ke depan, kajian serta topik riset yang hendak dibesarkan, dan sasaran serta target aktivitas riset Politek Kesehatan Kemenkes Makassar.

Saat ini penelitian yang dilaksanakan mengacu pada Visi Pusat Penelitian Poltekkes Makassar adalah menjadi Pusat Penelitian berbasis teknologi terapan kesehatan yang inovatif dan terkemuka di jenjang nasional maupun internasional dibidang kesehatan urban. Penelitian dasar unggulan perguruan tinggi yang akan dilaksanakan ini mengacu pada Sasaran utama Pusat Penelitian Poltekkes Makassar sebagai wujud dari visinya ialah membentuk Pusat Penelitian dan pengabdian kepada masyarakat berbasis teknologi terapan  inovatif dan terkemuka di tingkat nasional maupun internasional.

Bersumber pada target strategi yang sudah diresmikan diformulasikan peta  pengembangan Pusat Riset Poltekkes Makassar selaku Pusat Riset, pelaksanaan serta pengambangan  ipteks terkemuka. Peta strategi peningkatan digunakan selaku acuan dalam perumusan strategi peningkatan ataupun program pengembangan riset di Poltekkes Makassar  yaitu kesehatan urban dalam hal ini meningkatkan akses dan mutu dasar daerah urban terutama berdampak pada Penelitian dasar unggulan perguruan Tinggi akan menghasilkan luaran berupa TTG, HAKI dan publikasi ilmiah sebagimana alur yang dijelaskan pada gambar dibawah ini.


Penjabaran bidang penelitian di lingkungan Poltekkes Kemenkes Makassar diterjemahkan melalui pembentukan payung-payung penelitian yang merupakan arah penelitian di Poltekkes Makassar yang telah disesuaikan dengan isu strategis nasional dan sumber daya yang dimiliki sarana dan prasarana. Payung penelitian di Poltekkes Makassar dibagi menjadi 4 bidang sebagai mana terlihat pada gambar 2.2.

Gambar 2.2 menjelaskan empat bidang kajian adalah preventif, promotif, kuratif dan  rehabilitatif. Penelitian bidang gizi, kesling, analis kesehatan, dan kebidanan akan masuk ke ranah preventif dan kuratif sedangkan penelitian bidang keperawatan, fisioterapi, keperawatan gigi dan farmasi ke ranah kuratif dan rehabilitatif. Penelitian-penelitian tersebut dapat menjadi penelitian payung/kolaboratif agar dapat memaksimalkan peran masing-masing profesi dalam penanganan masalah kesehatan sehingga status kesehatan urban tetap terjaga atau lebih ditingkatkan.

B.     Jurusan Kesehatan Lingkungan Poltekkes Kemenkes Makassar

Roadmap Penelitian Jurusan Kesehatan Lingkungan adalah Kerangka Kerja Kajian Penelitian Kesehatan Lingkungan yang berfokus pada Konsep Pokok yaitu Pencegahan Penyakit yang berbasis lingkungan yang bermuara pada kesehatan masyarakat Kota maupun Desa.  

 C.    Road Map Penelitian


BAB III

TINJAUAN PUSTAKA

A.     Diare

 1.       Pengertian Diare

 

WHO mendefinisikan diare merupakan kondisi buang air besar dengan frekuensi yang tidak normal yaitu lebih sering dari biasanya dengan kotoran bersifat lembek atau cair. Kondisi tersebut disebabkan oleh infeksi virus atau bakteri, kuman pada saluran pencernaan. Penyakit ini dapat menular dari orang ke orang lain yang memiliki kebersihan buruk atau melalui makanan / minuman yang terkontaminasi (WHO, 2019).

Departeman Kesehatan RI mendefinisikan diare merupakan “kondisi buang air besar dengan konsistensi lembek atau cair serta frekuensi lebih sering dari biasanya” (Kementerian Kesehatan RI, 2011). Diare disebut sebagai gejala infeksi saluran pencercanaan yang ditandai dengan kondisi buang air besar lebih sering yaitu 3 kali atau lebih per hari dalam keadaan tinja yang cair (Sumampow, 2017). Berdasarkan definisi di atas maka dapat disimpulkan bahwa diare merupakan salah satu penyakit menular yang disebabkan oleh infeksi bakteri atau virus pada saluran pencernaan. Orang yang terkena diare mengalami buang air besar lebih sering dari biasanya dengan kondisi fases cair atau lembek.

 

2.      Epidemiologi Diare

WHO menetapkan diare sebagai penyakit menular penyebab utama kematian balita di dunia. Diare menyebabkan sebanyak 525.000 balita meninggal setiap tahunnya (WHO, 2019 ). Tahun 2016 dilaporkan 90% kematian akibat diare terjadi di Asia Selatan dan Sub Sahara. Penelitian Melinda (2018) yang dilakukan pada 195 negara melaporkan angka kematian balita yang disebabkan diare tertinggi terjadi di negara Chad sebesar 499 kematian per 100.000 penduduk, kemudian Republik Afrika Tengah sebesar 384 kematian per 100.000 penduduk dan Niger yaitu sebesar 376 kematian per 100.000 penduduk.

Indonesia merupakan salah satu negera di kawasan Asia Tenggara yang masih menghadapi permasalahan diare. Data RISKESDAS tahun 2018 menunjukkan pravelensi diare sebesar 6,8% berdasarkan diagnosis tenaga kesehatan. Berdasarkan data tersebut juga diketahui sebesar 11,5% kasus diare terjadi pada kelompok usia 1-4 tahun. Selain itu ditemukan diare lebih sedikit terjadi pada perempuan dibandingkan pada laki-laki (Kementrian Kesehatan RI, 2018).

Profil kesehatan Indonesia tahun 2020 menunjukkan persentase cakupan pelayanan diare tahun 2020 sebesar 28,9%. Adapun berdasarkan data tersebut diketahui provinsi yang memiliki cakupan pelayanan penderita diare balita tertinggi yaitu Nusa Tenggara Barat sebesar 61,4%, sementara provinsi yang memiliki cakupan pelayanan penderita diare terendah yaitu Sulawesi Utara sebesar 4%. (Kementerian Kesehatan RI, 2021).

Provinsi Kalimantan Tengah termasuk provinsi yang memiliki cakupan pelayanan penderita diare dibawah target program yaitu 20%. Cakupan pelayanan di Kalimantan Tengah sebesar 16,5% (Kementerian Kesehatan RI, 2021). Adapun untuk kasus diare balita di Kalimantan Tengah tergolong tinggi yaitu sebesar 50,9% pada tahun 2019 (Dinas Kesehatan Provinsi Kalimantan Tengah, 2019). Hal ini menyebabkan diare termasuk dalam permasalahan kesehatan masyarakat yang memerlukan intervensi tepat untuk menurunkan kasus.

3.      Etiologi Diare

Penyebab diare terbagi menjadi 4 penyebab yaitu diantaranya (Manalu, 2021)

1.      Faktor infeksi: dibagi menjadi dua bagian yaitu infeksi internal dan infeksi parenteral. Infeksi Internal merupakan infeksi pada saluran pencernaan makanan yang disebabkan oleh infeksi bakteri, virus, maupun parasit. Adapun infeksi yang terjadi diluar saluran pencernaan makanan seperti Otitis Media Akut (OMA) tonsitilitis/ tonsiloparingitis disebut dengan infeksi parenteral. Infeksi parenteral banyak ditemukan pada anak usia dibawah 2 tahun.

2.      Faktor malabsorpsi: gangguan penyerapan zat makanan seperti karbohidrat, lemak dan protein. Namun sebagian besar dari bayi ditemukan lebih intoleran disakarida pada laktosa dalam susu.

3.      Faktor makanan: disebabkan karena konsumsi makanan basi, beracun atau alergi makanan

4.      Faktor psikologis: Faktor psikologis juga dapat memhubungani kejadian diare pada balita, faktor psikologis tersebut seperti rasa takut dan cemas.

4.      Cara Penularan Diare

 

Diare termasuk penyakit yang memiliki cara penularan sangat mudah. Agent penyebab diare dapat ditularkan melalui air maupun makanan yang sudah tekontaminasi. Maka dari itu penting sekali menjaga kebersihan sumber air dan makanan yang dikonsumsi. Selain itu tangan yang tidak bersih juga dapat menjadi media penularannya. Meskipun kebersihan air dan makanan telah dijaga apabila dalam proses penggunaannya menggunakan tangan kotor maka penularan juga bisa terjadi. Pada balita diare dapat terjadi akibat penggunaan botol susu yang tidak baik (Irwan, 2017a).

5.      Klasifikasi dan Gejala Diare

Diare terbagi menjadi beberapa klasifikasi diantaranya berdasarkan lamanya, masalah dan derajat dehidrasi. Berdasarkan lamanya diare terbagi menjadi diare akut dan diare kronis. Apabila diare terjadi kurang dari 14 hari maka disebut diare akut. Sebaliknya apabila diare terjadi lebih dari 14 hari maka termasuk diare kronis. Berdasarkan masalah, diare dibagi menjadi kasus disentri dan diare persinsten atau kronis. Pengklasifikasian diare balita juga dihubungkan dengan derajat dehidrasi yang dapat muncul saat seseorang mengalami diare. Berikut klasfikasi diare berdasarkan derajat dehidrasi serta gejala atau tandanya sebagai berikut (Kementerian Kesehatan RI, 2011).

1.      Diare tanpa dehidrasi, kondisi dimana balita diare mengalami kehilangan cairan <5% berat badan. Balita yang mengalami kondisi diare tanpa dehidrasi biasanya masih aktif, minum seperti biasa, kondisi mata tidak cekung, dan turgor kembali segera

2.      Diare dehidrasi ringan / sedang, kondisi ini ditandari dengan balita diare kehilangan carian 5-10% berat badan. Selain itu balita terlihat gelisah, mata cekung, memiliki rasa selalu minum dan turgor kembali lambat

3.      Diare dehidrasi berat, pada klasifikasi ini balita diare mengalami kehilangan >10% berat badan, selain itu balita mengalami lelu hingga tidak sadar, mata cekung, kemudian balita diare memilki rasa malas untuk minum, dan turgor kembali sangat lambat.

6.      Dampak Diare Bagi Balita

Balita yang mengalami diare dapat mengalami hal berikut; (Widjaja, 2002)

1.      Dehidrasi

                 Balita yang menderita diare dapat mengalami dehidrasi. Dehidrasi menimbulkan gangguan metabolism tubuh hingga kematian. Balita yang mengalami dehidrasi akan muncul gejalaseperti kulit berkerut, mata cekung, ubun-ubun cekung serta mulut dan bibir kering.

2.      Gangguan Pertumbuhan

                 Diare menyebabkan balita mengalami pengeluaran zat gizi dalam tubuh sementara asupan makanan terhenti. Akibatnya balita kekurangan gizi dan pertumbuhannya terganggu.

7.      Pencegahan Diare

Diare pada balita dapat dicegah dengan beberapa upaya. Upaya tersebut diantaranya (WHO, 2019)

a.       Akses air minum yang aman

b.      Sanitasi yang baik

c.       Sering mencuci tangan pakai sabun

d.      Memberikan ASI ekslusif selama enam bulan pertama kehidupan

e.       Memperhatikan kebersihan pribadi dan makanan

f.       Memberikan pendidikan kesehatan tentang cara penularan diare

g.      Melakukan Vaksinasi Rotavirus

 

B.     Pengertian Air Minum

Air Minum adalah air yang melalui pengolahan atau tanpa pengolahan yang memenuhi syarat kesehatan dan dapat langsung diminum. Air minum digunakan untuk keperluan minum, masak, mencuci peralatan makan dan minum, mandi, mencuci bahan baku pangan yang akan dikonsumsi, peturasan, dan Ibadah. Air minum isi ulang adalah air yang diproduksi melalui proses penjernihan dan tidak memiliki merek (BPS, 2018).

Air minum merupakan air yang dapat dikonsumsi atau layak diminum oleh makhluk hidup utamanya manusia ketika air tersebut telah melalui proses pengolahan yang bertahap. Pengolahan air minum ini menjadi sangat penting karena fungsinya yang vital dalam proses perubahan kualitas, dimana air tidak layak minum diubah menjadi layak minum.

Air minum memiliki berbagai macam sumber dalam pemenuhan kebutuhannya ditengah kehidupan masyarakat. Keragaman sumber air minum tersebut dimulai dari air gunung, air tanah, air sungai, dan juga air laut. Umumnya sumber air minum ini mengandung unsur pencemaran yang tinggi. Hal ini merujuk pada aktivitas aerobik dan anaerobik di dalam badan air tersebut. Besarnya volume cairan limbah buangan yang bermuara pada badan air menjadi alasan ilmiah sumber air minum tersebut tinggi akan bahan pencemar (Hakim, dkk 2020).

C.     Syarat Kualitas Air Minum

Menurut Peraturan Menteri Kesehatan Republik Indonesia Nomor 2 Tahun 2023, standar kualitas air minum adalah sebagai berikut :

a.      Persyaratan Bakteriologis

Parameter bakteriologis merupakan jumlah maksimum Escherichia Coli atau fecal coli dan total bakteri coliform per 100ml sampel. Persyaratan tersebut harus dipenuhi oleh air minum, air yang masuk sistem distribusi dan air pada sistem distribusi. Air minum tidak boleh mengandung kuman-kuman patogen dan parasit seperti kuman-kuman typus, kolera, dysentri dan gastroenteritis. Untuk mengetahui adanya bakteri patogen dapat dilakukan dengan pengamatan terhadap ada tidaknya bakteri Escherichia Coli yang merupakan bakteri pencemar air. Parameter ini terdapat pada air yang tercemar oleh tinja manusia dan dapat menyebabkan gangguan pada manusia berupa penyakit perut (diare) karena mengandung bakteri patogen. Proses penghilangannya dilakukan dengan desinfeksi.

b.      Persyaratan Kimiawi

Bahan kimia dalam air minum tidak boleh ada dalam jumlah yang melebihi batas. Bahan kimia yang dimaksud tersebut antara lain: (Della Haki,2022)

1)      pH

pH air minum adalah faktor penting bagi air minum, pada pH 8,5 akan mempercepat terjadinya korosi pada pipa distribusi air minum.

c.       Persyaratan Fisik

Secara fisik air minum wajib tidak terasa, tidak beraroma, serta bening. Syarat lain yang harus dipenuhi diantaranya yaitu:

1)      Bau

Bau disebabkan oleh zat dalam air seperti gas H2S, NH3, senyawa fenol, klorofenol dan lain – lain. Selain mengganggu dari segi estetika, juga beberapa senyawa dapat bersifat karsinogenik. Pengukuran secara kuantitatif bau sulit diukur karena hasilnya terlalu subjektif.

2)      Kekeruhan

Kandungan Total Suspended Solid, termasuk organik dan anorganik, inilah yang menyebabkan kekeruhan. Sementara zat organik berasal dari pelapukan tanaman dan hewan, sedangkan zat anorganik biasanya berasal dari pelapukan batuan dan logam. Zat organik dapat menjadi makanan bakteri sehingga mendukung perkembangannya. Kekeruhan dalam air minum tidak boleh lebih dari 5 NTU.

3)      Warna

Untuk menghindari keracunan air minum sebaiknya tidak berwarna, bening dan jernih serta untuk alasan estetik. Air yang telah mengandung senyawa organik seperti daun, potongan kayu, rumput akan memperlihatkan warna kuning kecoklatan, oksida besi akan menyebabkan warna air menjadi kemerah – merahan, dan oksida mangan akan menyebabkan warna air kecoklatan.

D.     Sumber Pencemar Air Minum

Adapun sumber pencemar air minum menurut Setijo Pitojo,dan Eling Purwantoyo (2002) antara lain sebagai berikut :

  1. Pencemar Fisik

Air yang mengalami pencemar fisik dapat dilihat dari bau, rasa, kekeruhan dan warna.

1)      Bau

Bau pada air dapat disebabkan oleh benda asing yang masuk ke air seperti bangkai binatang, bahan buangan, dalam senyawa organik oleh bakteri. Pada peristiwa penguraian senyawa ataupun organik yang dilakukan oleh bakteri tersebut dihasilkan gas-gas berbau menyengat dan bahkan ada yang beracun seperti bau tersebut terhirup lebih dari 10 menit, dapat mengakibatkan kematian. Pada peristiwa peruraian zat organik berakibat meningkatkan penggunaan oksigen terlarut di air (BOD) Biological Oksigen Demand oleh bakteri, dan mengurangi Jointitas kandungan oksigen terlarut (DO = Dissolved Oxygen) di dalam air urada air minum tidak boleh ada bau yang merugikan pengguna air.

2)      Kekeruhan

Kekeruhan adalah efek optik yang terjadi jika sinar membentuk material tersuspensi di dalam air. Kekeruhan air terjadi karena adanya partikel hidup atau mati, berukuran besar ataupun berukuran kecil yang berada di dalam air, misalnya ganggang pada air waduk, atau lumpur yang terbawa pada air tanah saat turun hujan. Kekeruhan walaupun hanya sedikit dapat menyebabkan warna lebih tua dari warna yang sesungguhnya. Tingkat kekeruhan dipengaruhi oleh pH air. Kekeruhan pada air minum pada umumnya telah diupayakan sedemikian rupa sehingga air menjadi jernih.

3)      Warna

Warna pada air sebenarnya terdiri dari warna asli dan warna tampak. Warna asli atau true color, adalah warna yang hanya disebabkan oleh substansi terlarut. Warna yang tampak atau apparent color, adalah mencakup warna substansi yang terlarut berikut zat tersuspensi di dalam air tersebut. Warna air dapat ditimbulkan oleh ion besi, mangan, humus, biota air, plankton, dan limbah industri. Warna pada air di laboratorium diukur berdasarkan warna standar yang telah diketahui konsentrasinya. Warna air asli sukar dihilangkan. Pada air minum disyaratkan tidak berwarna, sehingga berupa air bening dan jernih.

b.      Pencemar Kimia

Pencemar kimia ada dua kelompok yaitu zat kimia anorganik dan zat kimia organik. Kedua zat tersebut ditekan volume dan konsentrasinya sampai batas limit, sehingga walaupun terpaksa masih ada di dalam air, tidak membahayakan bagi pengguna air minum. Keberadaan komponen pencemar kimia tersebut diukur atas tingkat toksisitasnya terhadap kesehatan manusia. Pencemar atau polutan yang termasuk bahan berbahaya dan beracun yang dikenal singkatan B3, yaitu merkuri, timah hitam, tembaga, kadmium, dan senyawa kimia nitrit, nitrat, phenol, detergen, serta elemen-elemen radioaktif.


  1. Pencemar Biologis

Pencemar Biologis pada air terdiri dari atas Bakteri, Virus, dan Kapang (jamur).

1)      Bakteri

Bakteri merupakan kelompok mikroorganisme yang penting pada penanganan air limbah. Bakteri adalah jasad renik yang sederhana, tidak berwarna, satu sel, berukuran antara 0,5 -6 µm. Bakteri berbiak dengan cara membelah diri, setiap 15 - 30 menit pada lingkungan yang ideal. Rumus kimia untuk mewakili sel bakteri adalah C5H7O2N atau C75H105O30N15P. Rumus empiris tersebut hanya menyatakan proporsi rata-rata dari komponen-komponen pengisi utama dalam sel bakteri. Bakteri dapat bertahan hidup dan berkembang biak dengan cara memanfaatkan makanan terlarut dalam air. Bakteri tersebut berperan dalam dekomposisi unsur organik di alam dan menstabilkan buangan organik. Bakteri yang mendapatkan perhatian dalam air minum terutama adalah Escherichia coli, yaitu coliform yang dijadikan sebagai indikator dalam penentuan kualitas air minum.

2)      Virus

Virus adalah berupa makhluk yang bukan organisme sempurna, antara benda hidup dan tidak hidup, berukuran sangat kecil antara 20-100 nanometer atau sebesar 1/50 kali ukuran bakteri. Virus terdiri dari lapisan pelindung protein yang mengelilingi serabut asam nukleat dan bersifat parasit obligat. Reproduksinya melibatkan sel hidup yang terinfeksi dan mengarahkan reaksi-reaksi sintesis dari sel hidup tersebut untuk memproduksi partikel virus baru. Perhatian utama virus pada air minum adalah terhadap kesehatan masyarakat, karena walaupun hanya satu viron mampu menginfeksi dan menyebabkan penyakit. Virus berada dalam air bersama tinja terinfeksi, sehingga menjadi sumber infeksi. Beberapa penyakit virus yang ditularkan melalui air (water borne disease) antara lain polio, dan hepatitis.

3)      Kapang (Jamur)

Kapang adalah mikroorganisme nonfotosintesis, bersel jamak, bercabang, dan memanfaatkan sisa makanan terlarut di air. Kapang sesuai hidup di limbah yang mempunyai pH rendah antara 4-5, kadar air rendah, nitrogen rendah, dan nutrient tertentu tidak ada, tidak aktif dalam suasana anaerob. Komposisi sel kapang dapat dinyatakan dengan rumus empiris dengan C10H17O6N. Pada umumnya peranan kapang pada penanganan air minum kurang dominan.


E.     Bakteri Coliform

1.    Pengertian Bakteri Coliform

Coliform merupakan bakteri Gram negatif, berbentuk batang, bersifat aerob maupun anaerob fakultatif, tidak berspora, dapat memfermentasi laktosa dan membentuk gas. Bakteri ini terdiri atas 4 genus dari famili Enterobacteriaceae yaitu Escherichia, Enterobacter, Citrobacter dan Klebsiella. Coliform merupakan flora normal pada usus makhluk hidup dan umumnya tidak menimbulkan penyakit. Sehingga perhitungan mikrobiologi yang digunakan adalah perhitungan secara kuantitatif. Perhitungan secara kuantitatif digunakan pada mikroba yang kurang bersifat patogen. Analisis kuantitatif atau pengujian jumlah mikroorganisme pada pangan merupakan salah satu pengujian yang umum dan rutin diterapkan dalam rangka pengawasan dan pengendalian mutu dan keamanan pangan (Isnawaida, 2020).

 

 

 

 


           (Sumber : Isnawaida, 2020)

             Gambar 3.1. Bakteri Coliform


Makanan yang kurang terjamin kebersihannya akan sangat mudah terkontaminasi. Kontaminasi juga dapat terjadi karena penyimpanan makanan terlalu lama. Penyimpanan yang lama akan menyebabkan tumbuhnya bakteri patogen seperti Coliform. Bakteri Coliform dapat tumbuh dan berkembang biak pada suhu penyimpanan 7°C hingga 60°C. Coliform dalam makanan dan minuman merupakan indikator terjadinya kontaminasi akibat penanganan makanan dan minuman yang kurang baik. Adanya Coliform di dalam makanan menunjukkan kemungkinan adanya mikroba yang bersifat toksik bagi kesehatan. Gangguan yang ditimbulkan pada manusia adalah mual, nyeri perut, muntah, diare, buang air besar berdarah, demam tinggi bahkan pada beberapa kasus bisa kejang dan kekurangan cairan atau dehidrasi.

Kelompok bakteri Coliform, umumnya juga berasal dari kotoran hewan dan manusia, tetapi di antara kelompok coliform terdapat golongan yang lebih tahan panas atau sering disebut sebagai thermotolerant Coliform atau sering sebagai fecal coliform (coliform yang berasal dari tinja). Fecal Coliform mampu memfermentasikan laktosa dan menghasilkan asam dan gas pada suhu 45 ± C selama 48 jam. Golongan fecal coliform ini pada umumnya didominasi oleh strain E.coli, golongan Non Fecal Coliform yaitu Enterobacter aerogenes. Bakteri Coliform merupakan satu dari berbagai macam banyaknya pencemaran makanan dan minuman. Keberadaan bakteri ini mengindikasikan terjadinya kontaminasi bakteri patogen melalui air dan mengkontaminasi bahan-bahan yang bersentuhan dengannya (Rostina S dkk, 2022).

2.    Faktor-Faktor yang mempengaruhi Keberadaan Bakteriologis Pada Air Minum Isi Ulang.

Agar air minum aman digunakan upaya untuk mengendalikan faktor resiko terjadinya kontaminasi yang berasal dari tempat, peralatan dan penjamah terhadap air minum agar aman dikonsumsi. Hal-hal yang perlu diperhatikan dalam Depot Air Minum Isi Ulang, seperti: (Della Haki, 2022)

a.       Tempat Pada Depot Air Minum Isi Ulang

Guna mencegah menjadi tempat perkembangbiakan hama dan vektor, bangunan gedung/depot harus kuat dan kokoh, selain itu konstruksi lantai bersih dan tidak licin, bagian yang selalu kontak dengan air dibuat miring ke arah saluran pembuangan air agar tidak membentuk genangan air, dinding bersih permukaan yang selalu berkontak dengan air harus kedap air agar tidak menjadi lembab, dinding berwarna terang agar vektor dan binatang pengganggu tidak bersarang karena vektor dan binatang pengganggu lebih suka di tempat yang gelap dan lembab, pintu dapat dibuka dan ditutup dengan baik serta dapat mencegah masuknya binatang pengganggu,ventilasi dibuat dengan baik agar ada pertukaran udara yang baik dan tidak lembab.

b.      Penjamah Depot Air Minum

Guna mencegah kontak dengan sumber penyakit dan dapat mengakibatkan pencemaran terhadap air minum Penjamah harus dengan keadaan sehat. Setiap kali melayani konsumen Penjamah harus berperilaku higienis dan saniter seperti mencuci tangan dengan sabun dan air yang mengalir setiap melayani konsumen karena meskipun tampaknya ringan dan sering disepelekan namun terbukti cukup efektif dalam upaya mencegah kontaminasi pada makanan dan minuman, pencucian tangan dengan sabun dan diikuti dengan pembilasan akan menghilangkan banyak mikroba yang terdapat pada tangan, menggunakan pakaian kerja yang bersih dan tidak merokok pada saat melayani konsumen karena dapat menyebabkan pencemaran terhadap air minum. Penjamah harus melakukan pelatihan agar memahami hal-hal yang jika terjadi kontaminasi dapat memindahkan bakteri dan virus patogen dari tubuh, atau sumber lain ke makanan serta minuman.

c.       Peralatan Depot Air Minum

Guna memusnahkan kuman yang melekat pada perlengkapan yang dipakai untuk mengisi DAM Peralatan depot air minum isi ulang harus disterilisasi terlebih dahulu dulu dengan menggunakan ultraviolet. Ultraviolet yang tidak sesuai antara kapasitas dan kecepatan air yang melewati penyinaran ultraviolet, sehingga air terlalu cepat, maka bakterinya tidak mati. Idealnya untuk air minum kapasitas ultraviolet minimal adalah tipe 8 GPM 9 galon per menit) berarti kran pengisian depot digunakan untuk mengisi maksimal 1,5 botol per menit 16.

F. Kayu Secang (Caesalpinia sappan L.)

1. Pengertian Kayu Secang

Kayu secang (Caesalpinia sappan L.) merupakan salah satu tumbuhan dalam famili caesalpiniaceae yang secara empiris diketahui memiliki banyak khasiat penyembuhan dan sering dikonsumsi oleh masyarakat sebagai minuman kesehatan. Kayu secang juga digunakan secara luas dalam pengobatan tradisional. Kayu secang termasuk salah satu tumbuhan herbal yang tumbuh alami di hutan-hutan sekunder di indonesia. Kayu secang (Caesalpinia sappan l) mengandung berbagai senyawa yang memberikan manfaat tertentu bagi kesehatan dan digunakan dalam pengobatan tradisional untuk mengobati berbagai kondisi, seperti penyakit kulit, masalah pencernaan, peradangan, dan bahkan untuk meningkatkan sistem kekebalan tubuh.Tanaman ini mengandung senyawa fenolik seperti flavonoid, yang memiliki aktivitas antioksidan untuk menangkap radikal bebas. Ada beberapa komponen senyawa bioaktif yang terdapat pada kayu secang yaitu brazilin, brazilein, 3-O-metilbrazilin, sappanonem, chalcone, sappancalchone, delta-α-phellandrene, oscimene, asam galat, resin, resorsin, minyak atsiri, serta komponen umum yang lain seperti karbohidrat, asam amino, serta asam palmitat yang jumlahnya sangat kecil. Senyawa-senyawa utama yang menyebabkan air yang merendam kayu secang berwarna merah adalah brazilin, brazilein, dan protosappanin. Ketiga senyawa ini adalah jenis flavonoid yang dominan dalam kayu secang. Saat kayu secang direndam dalam air, senyawa-senyawa ini larut dan menghasilkan warna merah yang intens. Brazilin dan brazilein khususnya dikenal sebagai senyawa-senyawa yang bertanggung jawab atas warna merah yang khas dari kayu secang.

Secang (Caesalpinia sappan L.) merupakan tanaman yang sudah lama banyak digunakan sebagai obat tradisional. Secara konvensional, pemanfaatan tanaman secang oleh masyarakat juga cukup luas. Selain daun, buah, dan biji, bagian yang sering digunakan adalah potongan atau serutan kayunya (Sarah R. Megumi,2020).

Air secang merupakan minuman favorit bagi sebagian besar masyarakat di Sulawesi Selatan, khususnya Suku Bugis-Soppeng yang berada di pedesaan. Bahkan masyarakat membudidayakan tumbuhan secang sehingga dikenal dengan sebuah daerah di Kecamatan Marioriwawo dengan nama Ale’ Seppang yang berate ‘Hutan Secang’ walaupun sebelumnya khasiat yang terkandung dalam kayu ini belum diketahui. Masyarakat menggunakan serpihan kayu secang sebagai campuran air minuman sehari-hari dengan cara memasukkan serpihan kayu ke dalam teko atau tempat air minum. Air minum yang telah dicampur dengan serpihan kayu secang akan berwarna kemerahan sehingga air menjadi tampak segar dan jernih.

2. Klasifikasi Secang

Secang termasuk jenis perdu dengan ketinggian lima sampai sepuluh meter. Batangnya bulat dan berwarna hijau kecoklatan. Ciri daunnya majemuk menyirip ganda dengan panjang 25 hingga 40 sentimeter. Sementara jumlah anak daun sebanyak 10 sampai 20 pasang dan letaknya berhadapan. Anak daun tidak bertangkai, berbentuk lonjong, berujung bulat, dan berwarna hijau. Buah secang termasuk buah polong dengan panjang delapan sampai sepuluh sentimeter, lebar tiga hingga empat sentimeter. Ujung buahnya ibarat paruh dan berisi tiga sampai empat biji. Apabila masak warnanya akan berubah  menjadi hitam.

Biji secang berwarna kuning kecoklatan dan berbentuk bulat memanjang. Panjangnya antara 15-18 mm, lebar 8-11 mm, dan tebal 507 mm( Sarah R Megumi,2020).

Pertumbuhan secang tersebar di India, Malaysia, dan Indonesia. Pada setiap daerah tanaman herbal ini mempunyai nama yang berbeda, antara lain seupeueng (Aceh), sepang (Gayo), sopang (Batak), cang (Bali), sepel (Timor), kayu sema (Manado), sapang (Makassar), roro (Tidore).

Klasifikasi kayu secang menurut Heyne, dalam Nurcahaya 2021 adalah sebagai berikut :

Kingdom                       : Plantae

Divisio                          : Spermatophyta

Sub divisio                    : Angiospermae

Klas                              : Dicotyledonae

Sub klas                        : Aympetalae

Ordo                             : Rosales

Famili                           : Leguminosae

Genus                           : Caesalpinia

Spesies                          : Caesalpinia sappan L

 



 

 

1.      Kandungan Kayu Secang

Menurut Sudarsono et al, (2002) Tanaman kayu secang memiliki kandungan kimia  seperti Tanin, Brasilin, Flavonoid Alkaloid yang bermanfaat sebagai anti bakteri yaitu :

a.       Tanin

Tanin dapat bersifat sebagai anti bakteri dan astringen Toksisitas tanin dapat merusak membran sel bakteri, senyawa astringent tanin dapat menginduksi pembentukan kompleks senyawa ikatan terhadap enzim atau substrat mikroba, dan pembentukan suatu kompleks ikatan tanin terhadap ion logam menambah daya toksisitas tanin (Nurcahaya,2021).

b.      Brazilin

Brazilin mempunyai aktivitas sebagai antibakteri dan bakteriostatik. Senyawa brazilin juga merupakan spesifik dari kayu secang yang dapat memberikan warna merah kecoklatan jika teroksidasi atau dalam suasana basa (Nurcahaya,2021).

c.       Fenolik

Senyawa fenolik berfungsi dalam pembuatan obat-obatan (bagian dari produksi aspirin, pembasmi rumput liar, dan lainnya). Selain itu fenol juga berfungsi dalam sintesis senyawa aromatis yang terdapat dalam batu bara. Turunan senyawa fenol (fenolat) banyak terjadi secara alami sebagai flavonoid dan senyawa fenolat yang lain.

d.      Flavonoid

Flavonoid yang terkandung dalam kayu secang berperan sebagai anti kanker, antivirus, antiinflamasi, diuretik dan antihipertensi. Saponin juga terkandung di dalam kayu secang yang berfungsi sebagai antivirus, anti bakteri, dan meningkatkan kekebalan tubuh Flavonoid berfungsi sebagai anti bakteri dengan cara membentuk senyawa kompleks terhadap protein extraseluler yang menghambat integritas membran sitoplasma sel bakteri (Juliantina et al., 2008). Membran sitoplasma mengalami kerusakan sehingga ion H+ dari senyawa flavonoid akan menyerang gugus polar (gugus fosfat) sehingga molekul fosfolipid akan terurai menjadi gliserol, asam karboksilat dan asam fosfat. Hal ini mengakibatkan fosfolipid tidak mampu mempertahankan bentuk membran sitoplasma akibatnya membran sitoplasma akan bocor dan bakteri akan mengalami hambatan pertumbuhan hingga kematian (Nurcahaya,2021).

e.       Alkaloid

Alkaloid memiliki kemampuan antibakteri dengan cara menghambat pembentukan komponen penyusun peptidoglikan pada sel bakteri, sehingga lapisan dinding sel tidak terbentuk secara utuh (Juliantina et al., 2008). Sintesis peptidoglikan akan terganggu sehingga pembentukan sel tidak sempurna karena tidak mengandung peptidoglikan dan dinding selnya hanya meliputi membran sel. Susunan dinding sel bakteri adalah lapisan peptidoglikan (Retnowati et al., 2011) Peptidoglikan tersusun dari N-assetil glukosamin dan N-asetil asam muramat, yang terikat melalui ikatan 1,4-glikosida. Pada N-asetil asam muramat terdapat rantai pendek asam amino: alanin, glutamat, diaminopimetal, lisin dan alamin, yang terikat melalui ikatan peptida. Peranan ikatan peptida ini sangat penting dalam menghubungkan antara rantai satu dengan rantai lain. Mekanisme kerusakan dinding sel bakteri terjadi dengan mencegah ikatan silang peptidoglikan pada tahap akhir sintesis dinding sel, yaitu dengan cara menghambat protein pengikat. Protein ini merupakan enzim dalam membran plasma sel bakteri yang secara normal terlibat dalam penambahan asam amino yang berikatan silang dengan peptidoglikan dinding sel bakteri dan memblok aktivitas enzim transpesidase yang membungkus ikatan silang polimer-polimer gula panjang yang membentuk dinding sel bakteri. Keadaan ini menyebabkan sel bakteri mudah mengalami lisis, baik berupa fisik maupun osmotik dan menyebabkan kematian sel (Nurcahaya,2021).

 

 

BAB IV

METODE PENELITIAN

A.    Jenis dan Desain Penelitian

Jenis penelitian yang digunakan adalah penelitian eksperimen skala laboratorium menggunakan kayu secang (Caesalpinia sappang L) 1 gr dalam 1 liter air  dengan waktu kontak 12 jam untuk menurunkan kandungan Coliform pada air minum dimasak dan  air minum isi ulang dengan rancangan pemeriksaan sebelum dan sesudah proses penambahan kayu secang, dengan replikasi lima kali dan dianalisis menggunakan Uji Wilcoxon.

B.     Lokasi dan Waktu Penelitian

1.      Lokasi Penelitian

Lokasi penelitian berada di Kota Makassar, di mana dilakukan pengambilan sampel dari beberapa Lokasi Sumur gali dan Depot yang berada di Kota Makassar kemudian melakukan pemeriksaan sampel air minum sebelum dan sesudah penambahan kayu secang di Laboratorium Jurusan Kesehatan Lingkungan Poltekkes Kemenkes Makassar.

2.      Waktu Penelitian

Waktu penelitian disini terbagi menjadi

a.       Tahap Persiapan

1)      Pengambilan data awal kejadian panyakit diare di Kota Makassar

2)      Pembuatan Proposal penelitian dan rincian anggaran biaya (RAB)

3)      Pembuatan MoU (Memorandum of Understanding)

4)      Perizinan kepada pihak instansi setempat

b.      Tahap Pelaksanaan

Penelitian ini akan dilaksanakan selama 1 tahun yang dimulai pada tahun 2024.


C.   Kerangka Teori Penelitian


 

 

Standar Kualitas Air Minum Menurut Permenkes No.2 Tahun 2023

menurunkan Bakteriologis

Efektif

Tidak Efektif

Tanin dan Flavonoid

Senyawa kayu secang yang berfungsi sebagai anti bakteri

Air Minum

Kualitas Air Minum

Kimia

Biologi

Fisik

Bakteri

Virus

Jamur

Bakteri Coliform

Faktor-Faktor Yang Mempengaruhi Bakteriologis pada Air Minum

Pemanfaatan Kayu Secang

 

 


 

 

 

 

  D.    Kerangka Konsep

 


  

                                 

 

E.     Definisi Operasional dan Kriteria Obyektif

  1. Variabel Bebas, variabel yang mempengaruhi variabel terikat (independen) dalam penelitian ini yaitu air minum yang digunakan berasal dari air minum yang dimasak dan  air minum isi ulang yang paling efektif dalam menurunkan bakteri Coliform pada air minum di rumah tangga, dengan penambahan kayu secang 1 gr dalam 1 liter air minum dengan waktu kontak 12 jam.
  2. Variabel Terikat, variabel yang dipengaruhi oleh variabel bebas (dependen) dalam penelitian ini adalah penurunan coliform pada air minum isi ulang dengan penambahan kayu secang secang (Caesalpinia sappan L.).
  3. Variabel Pengganggu, variabel yang ikut berpengaruh pada variabel terikat dalam penelitian ini variabel pengganggu yaitu pH, dan Bau.

F.    Definisi Operasional dan Kriteria Objektif

1.    Diare pada penelitian ini adalah gejala yang timbul disebabkan oleh bakteri sehingga terjadi buang air besar lebih dari 3 kali dan ditandai dengan tinja yang encer.

2.    Air Minum Isi Ulang pada penelitian ini yaitu air minum isi ulang yang dikonsumsi rumah tangga

3.    Kayu Secang (Caesalpinia sappan L.) pada penelitian ini yaitu kayu secang yang berbentuk serutan sebanyak 1 gr dalam 1 liter air dengan waktu kontak 12 jam, 24 jam, dan 36 jam yang digunakan untuk menurunkan bakteri coliform pada air minum isi ulang

Kriteria Objektif      :

a.    Efektif :

Kayu secang dengan waktu kontak 12 jam efektif menurunkan bakteri coliform pada air minum yang dimasak dan air minum isi ulang sesuai dengan syarat permenkes RI. No. 2 tahun 2023 yaitu 0 CFU/100ml.

b.    Tidak Efektif

Kayu secang dengan waktu kontak 12 jam tidak efektif menurunkan bakteri Coliform pada air minum yang dimasak dan air minum isi ulang sesuai dengan syarat permenkes RI. No. 2 tahun 2023 yaitu 0 CFU/100ml.

4.    Bakteri Coliform pada penelitian ini yaitu bakteri yang tumbuh pada media laktosa dalam tabung durham ditandai dengan adanya gelembung gas yang diperoleh dari hasil pemeriksaan laboratorium

5.    pH pada penelitian ini yaitu pH pada sampel air minum sesuai dengan persyaratan permenkes yaitu 6,5 - 8,5 diukur menggunakan pH meter pada hasil pemeriksaan laboratorium.

Kriteria Objektif      :

a.    Efektif :

Efektif apabila pH sampel air minum yaitu 6,5 - 8,5 sesuai dengan syarat permenkes No. 2 Tahun 2023.

b.    Tidak Efektif

Tidak efektif apabila pH sampel air minum tidak sesuai dengan syarat permenkes No.2 Tahun 2023.

6.    Bau pada penelitian ini yaitu tidak berbau sesuai dengan syarat permenkes RI No. 2 Tahun 2023.

Kriteria Objektif      :

a.    Efektif

Efektif apabila sampel air tidak berbau sesuai dengan syarat permenkes No. 2 Tahun 2023.

b.    Tidak Efektif

Tidak Efektif apabila sampel air berbau sesuai dengan syarat permenkes No 2 Tahun 2023.

G.   Cara Pengumpulan Data

1.    Data Primer

Data primer diperoleh dari hasil pengamatan dan pemeriksaan laboratorium pada pemeriksaan bakteri Coliform pada Air Minum Isi Ulang.

 

 

2.    Data Sekunder

Data sekunder diperoleh melalui banyak referensi seperti buku, jurnal, hasil penelitian (KTI dan Skripsi), artikel-artikel, dan dari internet yang memiliki keterkaitan dengan penelitian ini.

H.   Pengolahan dan Analisa Data

1.    Pengolahan Data

Pengolahan data pada penelitian ini dilakukan dengan menggunakan alat bantu komputer dan alat bantu lainnya yang disajikan dalam bentuk narasi. 

2.    Analisis Data

Adapun data yang diperoleh dari hasil pemeriksaan laboratorium dan dianalisis secara statistic dengan menggunakan uji wilcoxon yang dijelaskan dalam bentuk tabel, grafik, dan narasi yang menggambarkan secara menyeluruh proses yang telah dicapai selama proses penelitian dilakukan.

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

BAB V

HASIL DAN PEMBAHASAN

A.    Hasil

Penelitan Kemampuan kayu secang (Caesalpinia sappan l) sebanyak 1 gr dalam 1 liter air minum yang dimasak dan air minum  isi ulang dalam menurunkan bakteri Coliform pada 5 sampel air minum yang di masak dan 5 sampel air minum isi ulang yang diambil di depot air minum isi ulang Kota Makassar dengan replikasi 5 kali diperoleh hasil sebagai berikut :

Tabel 5.1. Analisis Hasil Pemeriksaan Bakteri Coliform pada Sampel Kontrol dan Awal pada Air Minum yang di Masak dan Air Minum Isi Ulang dengan Penambahan Kayu Secang dengan Waktu Kontak 12 Jam

Sampel

Mean

SD

Min-Max

P-Value

Kontrol Sampel

240.00

0.000

240-240

1.000

Sampel Awal

240.00

0.000

240-240

   Sumber : Data Primer 2024

Tabel 5.1. menunjukkan bahwa rata-rata hasil pemeriksaan bakteri Coliform pada sampel kontrol yaitu 240.00 sedangkan rata-rata  sampel awal yaitu 240.00. Berdasarkan hasil uji statistik menggunakan Uji T diperoleh p-value = 1.000. Nilai p yang diperoleh lebih besar dari α = 0,05 (p > 0.05) maka Ho diterima artinya tidak terdapat perbedaan sampel Kontrol dan Sampel Awal pemeriksaan bakteri Coliform air minum isi ulang dan air minum yang dimasak.

Tabel 5. 2. Analisis Hasil Pemeriksaan Bakteri Coliform pada Air Minum yang di Masak dengan Penambahan Kayu Secang dengan Waktu Kontak 12 Jam

Sampel

Mean

SD

Min-Max

P-Value

Sampel Air Masak

0.00

0.000

0-0

0.025

Sampel Awal

240.00

0.000

240-240

                        Sumber : Data Primer 2024

 

Tabel 5.2 menunjukkan bahwa rata-rata hasil pemeriksaan bakteri Coliform pada sampel Air masak yaitu 0,00 sedangkan rata-rata  sampel awal yaitu 240.00. Berdasarkan hasil uji statistik menggunakan Uji T diperoleh p-value = 0,025. Nilai p yang diperoleh lebih kecil dari α = 0,05 (p > 0.05) maka Ho ditolak artinya terdapat perbedaan sampel Air Minum yang dimasak dengan Sampel Awal pemeriksaan bakteri Coliform pada sampel air minum yang dimasak.

Tabel 5.3. Analisis Hasil Pemeriksaan Bakteri Coliform pada Air Minum Isi Ulang dengan Penambahan Kayu Secang dengan Waktu Kontak 12 Jam

Sampel

Mean

SD

Min-Max

P-Value

Sampel AMIU

0.00

0.000

0-0

0.025

Sampel Awal

240.00

0.000

240-240

                        Sumber : Data Primer 2024

Berdasarkan tabel 5.3. menunjukkan bahwa rata-rata hasil pemeriksaan bakteri Coliform pada sampel air minum isi ulang yaitu 0,00 sedangkan rata-rata  sampel awal yaitu 240.00. Berdasarkan hasil uji statistik menggunakan Uji T diperoleh p-value = 0,025. Nilai p yang diperoleh lebih kecil dari α = 0,05 (p > 0.05) maka Ho ditolak artinya terdapat perbedaan sampel Air Minum isi ulang dengan Sampel Awal pemeriksaan bakteri Coliform pada sampel air minum yang dimasak.

Tabel 5.4. Hasil Pemeriksaan pH pada Air Minum yang di Masak dan Air Minum Isi Ulang dengan penambahan kayu Secang dengan Waktu Kontak 12 Jam

Sampel

 

Hasil Pemeriksaan pH

Awal

Kontrol

Perlakuan

Depot 1

7,6

7,5

7,3

Depot 2

7,7

7,6

7,4

Depot 3

7,5

7,5

7,1

Depot 4

7,8

7,8

7,6

Depot 5

7,6

7,6

7,2

Sumur 1

7,8

7,8

7,6

Sumur 2

7,6

7,5

7,3

Sumur 3

7,9

7,8

7,7

Sumur 4

7,9

7,9

7,8

Sumur 5

7,5

7,5

7,4

Sumber : Data Primer 2024

Tabel 5.4 menunjukkan pH pada sampel awal, kontrol dan perlakuan dengan penambahan kayu secang pada air minum yang dimasak dan air minum isi ulang berada dalam kondisi netral antara 7,1 sampai 7,9 dengan penurunan kadar pH 0,1 sampai 0,4.

B.     Pembahasan

Penelitian dengan judul “Kemampuan Kayu Secang (Caesalpinia sappan L.) dalam Menurunkan Bakteri Coliform  pada Air Minum sebagai Upaya Penanggulangan Kasus Diare”. Pada penelitian ini memakai sampel air minum isi ulang yang diambil dari 5 depot air minum isi ulang yang berada di Jl. Wijaya Kusuma 1 Kelurahan Banta Bantaeng, Kecamatan Rappocini, dan di Jl. Balana No. 17/10 Ke. Barana, Kota Makassar. Dan sampel air minum yang dimasak diambil dari 5 air sumur warga di Jl. Rappocini, Kecamatan Rappocini, Kota Makassar. Jenis penelitian menggunakan skala laboratorium dengan variasi kayu secang (Caesalpinia sappan L.) 1 gr, dalam 1 liter air minum isi ulang dan air masak dengan waktu kontak 12 jam untuk menurunkan bakteri coliform pada air minum isi ulang dan air masak dengan rancangan pemeriksaan sebelum dan sesudah proses penambahan kayu secang dengan replikasi / pengulangan lima (5) kali. Pada penelitian dan pengamatan ini dilakukan di Laboratorium Jurusan Kesehatan Lingkungan pada 4 Mei 2024 sampai 5 mei 2024, metode yang digunakan yaitu dengan MPN Coliform (Tabung berganda).

1.      Kemampuan Kayu Secang dalam Menurunkan Balteri Coliform pada Air Minum yang di Masak

Berdasarkan hasil penelitian yang diperoleh dari laboratorium Jurusan Kesehatan Lingkungan. Pada bagian ini, akan dilakukan analisis mendalam terhadap data yang telah diperoleh dan dikumpulkan. Hasil pemeriksaan bakteri Coliform pada air masak dengan penambahan kayu secang sebanyak 1 gr dalam 1 liter air minum yang dimasak kemudian dikontakkan selama 12 jam memperoleh hasil yaitu 0 CFU/100ml.

Adapun hasil pemeriksaan bakteri coliform pada air minum  yang dimasak didapatkan hasil pada uji statistik terdapat perbedaan dengan sampel awal dan sampel air  minum yang dimasak, dengan nilai p-value yaitu 0,025 artinya terdapat perbedaan dengan sampel awal dan perlakuan. Sehingga kayu secang dikatakan mampu menurunkan bakteri Coliform dengan hasil setelah perlakuan yaitu 0CFU/ 100ml.

Pada waktu kontak kayu secang selama 12 jam Efektif menurunkan bakteri Coliform pada air minum yang dimasak sesuai dengan PERMENKES RI NO.2 Th. 2023 yaitu 0 CFU/100ml. Merujuk pada penelitian Nurcahaya (2021) dengan judul “Kemampuan Kayu Secang (Caesalpinia sappan l) dalam Menurunkan Bakteri Coliform Pada Air Bersih” memakai dosis 1 gr kayu secang dalam 1 liter air bersih dengan waktu kontak kayu secang 12 jam, didapatkan persentase penurunan coliform yaitu 58,5%. Pada penelitian Nurcahaya menyarankan bahwa kayu secang yang digunakan digunakan sebaiknya disiram terlebih dahulu menggunakan air hangat atau direndam diair hangat agar senyawa pada kayu secang bisa lebih cepat untuk bekerja.

Berdasarkan hasil penelitian oleh Nurcahaya, penelitian ini memberikan hasil yang lebih efektif, karena kayu secang pada penelitian ini dapat menurunkan bakteri Coliform pada air minum sampai 0 CFU/100 ml.

Penurunan jumlah coliform dalam air minum setelah penambahan kayu secang bisa disebabkan oleh beberapa faktor salah satunya yaitu sifat anti mikroba yang terdapat pada kayu secang. Kayu secang (Caesalpinia sappan l) memiliki sifat antimikroba alami. Senyawa-senyawa aktif dalam kayu secang seperti flavonoid dan tanin telah dikenal memiliki aktivitas antimikroba terhadap berbagai jenis bakteri, termasuk coliform. Flavonoid merupakan salah satu senyawa alami yang banyak ditemukan dalam tumbuhan-tumbuhan dan makanan yang menjanjikan untuk mengobati berbagai penyakit seperti kanker, antioksidan, bakteri patogen, radang, disfungsi kardio-vaskular, dan mempunyai kemampuan antioksidannya dalam mencegah terjadinya luka akibat radikal bebas. Adapun cara kerja Flavonoid yaitu flavonoid memiliki kemampuan untuk menghambat pertumbuhan bakteri melalui beberapa mekanisme contohnya yaitu beberapa flavonoid dapat merusak membran sel bakteri, menyebabkan kebocoran bahan-bahan penting dari dalam sel dan akhirnya menyebabkan kematian bakteri. Efektivitas flavonoid dapat bervariasi tergantung pada jenis flavonoid yang digunakan, konsentrasi, dan jenis bakteri coliform.

Senyawa tanin, yang merupakan kelas senyawa polifenolik ditemukan dalam banyak tanaman seperti teh, anggur, dan kulit kayu, dikenal memiliki berbagai efek biologis termasuk aktivitas antibakteri. Berikut adalah penjelasan mengenai cara kerja tanin dalam menurunkan bakteri coliform dalam air minum. Adapun cara kerja tanin yaitu menghambat pertumbuhan bakteri melalui beberapa mekanisme utama yang berhubungan dengan kemampuannya untuk berinteraksi dengan komponen sel bakteri. Tanin memiliki kemampuan untuk berikatan dengan protein. Dalam konteks bakteri coliform, tanin dapat berikatan dengan protein pada permukaan bakteri atau di dalam sel bakteri. Ini dapat mengganggu fungsi protein-protein penting seperti enzim yang terlibat dalam metabolisme atau sintesis dinding sel bakteri, sehingga menghambat pertumbuhan atau bahkan membunuh bakteri. Tanin juga dapat menyebabkan perubahan struktural pada membran sel bakteri. Pengikatan tanin pada membran dapat mempengaruhi integritas membran, yang dapat menyebabkan kebocoran bahan-bahan penting dari dalam sel, akhirnya menyebabkan kematian bakteri. Tanin dapat ditambahkan dalam proses pengolahan air minum untuk menurunkan konsentrasi bakteri coliform. Ini bisa dilakukan dengan menambahkan ekstrak tanin ke dalam sistem filtrasi atau pengolahan air. Tanin juga digunakan dalam proses koagulasi dan flokulasi untuk mengendapkan partikel dan kontaminan dari air. Dengan mengendapkan partikel yang mungkin mengandung bakteri, tanin dapat membantu dalam pemurnian air.

Sampel air untuk air minum yang dimasak adalah sampel air sumur yang telah diketahui mengandung bakteri coliform. Sehingga apabila tidak melalui proses pemasakan atau pengolahan yang baik dapat menyebabkan penyakit. Penyebaran bakteri coliform dapat berasal dari manusia ke manusia lain dengan cara melalui fekal oral yaitu manusia memakan makanan atau minuman yang terkontaminasi feses manusia maupun hewan melalui air, tangan, maupun lalat. Air sumur gali adalah istilah yang digunakan di Indonesia untuk merujuk pada air yang diambil dari sumur yang digali secara manual. Sumur gali adalah jenis sumur yang dibuat dengan menggali tanah hingga mencapai sumber air tanah.

Berbeda dengan sumur bor yang menggunakan alat berat dan mesin untuk mengebor tanah, sumur gali umumnya lebih sederhana dan sering kali digunakan di daerah yang tidak memiliki akses mudah ke teknologi modern. Kualitas air dari sumur gali bisa bervariasi tergantung pada kedalaman sumur, jenis tanah, dan kontaminasi yang mungkin ada. Biasanya, air dari sumur gali perlu diuji dan mungkin perlu diperlakukan sebelum dikonsumsi untuk memastikan keamanan dan kualitasnya.

Kelebihan dari penelitian untuk pemeriksaan bakteri coliform pada air minum yang dimasak dengan penambahan kayu secang waktu kontak 12 jam ini adalah total Coliform telah memenuhi syarat.

Adapun kelemahan dari penelitian ini yaitu memerlukan waktu untuk dimasak terlebih dahulu dan terdapat perubahan secara fisik pada air minum yang dimasak yang dihasilkan setelah penambahan kayu secang. Salah satunya yaitu warna yang dihasilkan pada air minum yang dimasak setelah penambahan kayu secang mengalami peningkatan.

Warna pada penelitian ini menjadi kelemahan penelitian dikarenakan warna yang mencolok kemerahan yang mempengaruhi kualitas fisik air minum. Senyawa-senyawa utama yang menyebabkan air yang merendam kayu secang berwarna merah adalah brazilin, brazilein, dan protosappanin. Ketiga senyawa ini adalah jenis flavonoid yang dominan dalam kayu secang. Saat kayu secang direndam dalam air, senyawa-senyawa ini larut dan menghasilkan warna merah yang intens. Brazilin dan brazilein khususnya dikenal sebagai senyawa-senyawa yang bertanggung jawab atas warna merah yang khas dari kayu secang. Brazilein adalah senyawa utama yang memberikan warna merah pada air rendaman kayu secang. Brazilin adalah senyawa flavonoid yang terbentuk dari proses oksidasi dan konversi senyawa-senyawa yang lebih kompleks dalam kayu secang. Brazilein memiliki warna merah yang khas dan merupakan salah satu indikator utama aktivitas pewarnaan dalam ekstrak kayu secang. Brazilein adalah senyawa yang juga berkontribusi pada warna merah. Brazilein adalah produk sampingan dari proses pemecahan brazilin dan berperan dalam stabilitas warna serta karakteristik pewarnaan. Protosappanin adalah senyawa utama yang berperan dalam memberikan warna merah pada air rendaman kayu secang (Caesalpinia sappan l). Protosappanin dapat berinteraksi dengan senyawa lain dalam air atau dengan bahan organik, yang bisa mempengaruhi warna akhir. Misalnya, adanya ion logam atau polifenol lain bisa mempengaruhi intensitas warna atau kestabilan warna. Proses ini melibatkan ekstraksi senyawa dari kayu secang ke dalam air, dan berbagai faktor seperti pH, suhu, dan konsentrasi dapat mempengaruhi warna yang dihasilkan. Akan tetapi warna dari kayu secang ini tidak menjadi permasalahan dikarenakan air yang dihasilkan pada penelitian ini tidak berbau dan tidak berasa sehingga apabila kandungan bakterinya 0 CFU/100ml maka air minum tersebut masih aman untuk dikonsumsi. warna pada kayu secang tidak secara langsung mempengaruhi kualitas air minum. Seperti yang diketahui bahwa warna kayu secang biasanya terkait dengan senyawa-senyawa pewarna alami yang terkandung di dalamnya, seperti brazilein dan brazileinon. Warna merah atau merah kecoklatan yang dihasilkan oleh senyawa-senyawa ini biasanya digunakan sebagai pewarna alami dalam makanan, minuman, atau tekstil.

Adapun salah satu produk yang terbuat dari kayu secang adalah wedang uwuh yang menjadi minuman herbal yang kaya akan manfaat kesehatannya. Wedang Uwuh adalah minuman tradisional dari Indonesia, khususnya dari Yogyakarta. Nama "Wedang Uwuh" berasal dari bahasa Jawa, di mana "wedang" berarti minuman dan "uwuh" berarti sampah atau serpihan, yang merujuk pada tampilan minuman ini yang dipenuhi dengan berbagai potongan bahan herbal. Bahan-bahan utama yang biasanya digunakan untuk membuat Wedang Uwuh adalah Kayu Secang. Seperti pada penelitian ini, kayu secang dimanfaatkan sebagai anti mikroba untuk menurunkan bakteri coliform pada air minum. Maka dari itu penggunaan kayu secang dalam jumlah yang sesuai dan dalam proses yang dikontrol dengan baik dapat memberikan warna dan manfaat tambahan pada air minum tanpa mempengaruhi kualitasnya secara negatif. pH yang dihasilkan pada pemeriksaan air minum yang dimasak ini memiliki penurunan setelah penambahan kayu secang. Akan tetapi penurunannya masih bernilai memenihi syarat kualitas air minum sesuai dengan peraturan PERMENKES RI NO. 2 Th. 2023 yaitu 6,5-8,5. Sehingga pH yang dihasilkan masih bersifat netral.

2.      Kemampuan Kayu Secang dalam Menurunkan Balteri Coliform pada Air Minum Isi Ulang

Berdasarkan hasil yang diperoleh dari Laboratorium Jurusan Kesehatan Lingkungan pada pemeriksaan bakteri coliform air minum isi ulang dengan waktu kontak kayu secang selama 12 jam diperoleh hasil awal yaitu >240 CFU/100ml dan setelah perlakuan yaitu 0 CFU/100ml.

Adapun hasil pemeriksaan bakteri coliform pada air minum isi ulang didapatkan hasil pada uji statistik terdapat perbedaan dengan sampel awal dan sampel air  minum yang dimasak, dengan nilai p-value yaitu 0,025 artinya terdapat perbedaan dengan sampel awal dan perlakuan. Sehingga kayu secang dikatakan mampu menurunkan bakteri Coliform dengan hasil setelah perlakuan yaitu 0CFU/ 100ml.

Pada penelitian yang dilakukan oleh Radiansyah, (2018) menggunakan kayu secang untuk menurunkan nilai ALT pada daging ayam, didapatkan hasil air rebusan kayu secang 30gr dalam 100ml air (konsentrasi 30%) yang disimpan selama 12 jam dapat menurunkan ALT pada daging ayam.

Kayu secang (Caesalpinia sappan l) mengandung berbagai senyawa yang memberikan manfaat tertentu bagi kesehatan dan digunakan dalam pengobatan tradisional untuk mengobati berbagai kondisi, seperti penyakit kulit, masalah pencernaan, peradangan, dan bahkan untuk meningkatkan sistem kekebalan tubuh. Beberapa penelitian telah menunjukkan bahwa kayu secang memiliki potensi untuk memiliki efek antimikroba, yang berarti bahwa ekstrak atau senyawa yang terkandung dalam kayu secang dapat membantu menghambat pertumbuhan bakteri, termasuk bakteri coliform. Coliform merupakan bakteri Gram negatif, berbentuk batang, bersifat aerob maupun anaerob fakultatif, tidak berspora, dapat memfermentasi laktosa dan membentuk gas. Bakteri Coliform hidup di saluran pencernaan manusia maupun hewan yang berdarah panas. Coliform dalam makanan dan minuman merupakan indikator terjadinya kontaminasi akibat penanganan makanan dan minuman yang kurang baik. Adanya Coliform di dalam makanan dan minuman menunjukkan kemungkinan adanya mikroba yang bersifat toksik bagi kesehatan.

Air minum isi ulang adalah air minum yang dihasilkan dari proses pengolahan air bersih atau air baku menjadi air yang layak konsumsi dengan cara pengisian ulang ke dalam wadah atau galon yang telah digunakan sebelumnya. Proses pengolahan ini biasanya dilakukan di depot air minum isi ulang dengan menggunakan berbagai teknik penyaringan dan sterilisasi, seperti filter karbon aktif, filter pasir, ultraviolet (UV), dan ozonisasi, untuk memastikan air tersebut aman dan bebas dari kontaminan berbahaya.

Kelebihan dari penelitian ini untuk pemeriksaan bakteri coliform pada air minum isi ulang dengan penambahan kayu secang waktu kontak 12 jam ini adalah total Coliform telah memenuhi syarat. Adapun kelemahan dari penelitian ini yaitu kualitas fisik yang melebihi syarat peraturan PERMENKES No, 2 Tahun 2023. Akan tetapi tidak mempengaruhi kualittas fisik air minum. Warna yang dihasilkan pada pemeriksaan setelah penambahan kayu secang selama 12 jam tidak memenuhi syarat, akan tetapi tidak menjadi permasalahan karena warna yang dihasilkan adalah warna alami yang berasan dari senyawa-senyawa kayu secang. Seperti halnya teh yang diseduh akan memberikan warna kecolatan pada air minum tergantung pada jenis dan cara penyeduhannya.

Beberapa senyawa yang dapat menjadi pengaruh peningkatan warna terhadap air minum dengan beberapa diantaranya adalah brazilin, brazilein, protosappanin, dan flavonoid. Brazilin adalah golongan senyawa yang memberi warna merah pada secang dengan struktur C16H14O5 dalam bentuk kristal. Brazilin diduga mempunyai efek anti-inflamasi dan anti bakteri, Winda Jumara (2018). Senyawa flavonoid adalah kelompok senyawa fitokimia yang umumnya ditemukan dalam berbagai jenis tumbuhan, seperti buah, sayuran, dan herba. Ada berbagai jenis senyawa flavonoid, dan di antaranya adalah senyawa antosianin, Nomer, et. al., (2019). Antosianin adalah pigmen flavonoid yang memberi warna merah, ungu, atau biru pada buah-buahan dan sayuran tertentu. Mereka berperan sebagai antioksidan dan sering kali dikaitkan dengan manfaat kesehatan. Beberapa manfaat senyawa flavonoid contohnya sebagai antioksidan yang membantu melindungi sel-sel tubuh dari kerusakan yang disebabkan oleh radikal bebas.

Penurunan pH disebabkan oleh beberapa faktor, yang pertama yaitu karena lamanya air minum didiamkan dan lamanya pengontakan dengan kayu secang yang bersifat asam. Selama proses perendaman kayu secang dalam air, apabila terlalu lama direndam makan akan terjadi proses dekomposisi bahan organik dalam kayu secang. Proses dekomposisi ini melibatkan aktivitas mikroorganisme, seperti bakteri dan jamur, yang berfungsi untuk memecah komponen-komponen organik dalam kayu menjadi senyawa-senyawa yang lebih sederhana. Salah satu produk dari proses dekomposisi tersebut adalah senyawa-senyawa asam organik. Senyawa-senyawa ini, seperti asam asetat, asam format, dan asam propionat, yang memiliki sifat asam sehingga dapat meningkatkan konsentrasi ion hidrogen (H+) dalam larutan. Akibatnya, pH dalam air minum dapat menurun secara signifikan karena peningkatan konsentrasi ion hidrogen.

 

 

 

 

 

 

 

 

BAB V

PENUTUP

A.      KESIMPULAN
Berdasarkan hasil pemeriksaan dapat ditarik kesimpulan bahwa Kayu Secang(Caesalpinia sappan L) mampu
 menurunkan bakteri Coliform pada air yang dimasak dan air minum isi ulang sesuai dengan standar PERMENKES R.I  No. 2 Tahun 2023 yaitu 0 CFU/100ml. Adapun uraiannya yaitu: 1) Kayu secang (Caesalpinia sappan L) dengan waktu kontak 12 jam pada air minum yang dimasak mampu menurunkan bakteri Coliform dengan persentase penurunan 100%, 2) Kayu secang (Caesalpinia sappan L) dengan waktu kontak 12 jam pada air minum yang dimasak mampu menurunkan bakteri Coliform sampai dengan persentase penurunan 100%.

B.     SARAN

Adapun saran yaitu; 1) Peneliti selanjutnya, disarankan untuk variasikan waktu yang lebih singkat, dosis yang lebih sedikit, dan melakukan pengukuran titik jenuh kayu secang, 2) Bagi Masyarakat, diharapkan menggunakan  kayu secang 1gr dalam air minum dengan waktu kontak 12 jam guna  meningkatkan kualitas air minum sebagai upaya pencegahan penyakit diare.

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

DAFTAR PUSTAKA

 

BPS, 2023. Persentase Rumah Tangga Indonesia Berdasarkan Sumber Air Minum Utama (Maret 2023). Online (Mayoritas Rumah Tangga Indonesia Konsumsi Air Minum Kemasan (katadata.co.id) Diakses pada 1 November 2023.

 

BTKLPP. Pemetaan Penyakit Diare Akut Sulawesi Selatan 2022. Data Penyakit. 2022;(1).

 

Catur Puspawati D. Kesehatan Lingkungan Teori dan Aplikasi. In: Jakarta : Buku Kedokteran EGC. ; 2019.

 

Divya, Solomon. Effects of some water quality parameters especially total coliform and fecal coliform in surface water of Chalakudy river. 2016;33(1):1-12.

 

Dwi Kusuma, Wahyuni  dkk. Toga Indonesia. In: Jurnal Kesehatan Lingkungan. Online; 2016. doi:10.47718/jkl.v10i2.1167

 

Harsa I made S. Hubungan Antara Sumber Air dengan Kejadian Diare Padawarga Kampung Baru Ngagelrejo Wonokromo Surabaya. Published online 2019.

 

Ingrid Suryanti Surono. Pengantar Keamanan Pangan Untuk Industri Pangan.; 2018. https://jurnal.stikes-alinsyirah.ac.id/index.php/kesmas

 

Imran Pambudi, 2022. Direktorat Pencegahan dan Pengendalian Penyakit Menular Kementerian Kesehatan. The Acceptance of Islamic Hotel Concept in Malaysia: A Conceptual Paper, 3(July), 1–119. (http://download.garuda.kemdikbud.go.id/article.php?article=2652619&val=24585&title.pdf) Diakses pada  2 Januari 2024.

 

Isnawaida, 2020. Deteksi Bakteri Coliform, Total Plate Count (Tpc) Dan Ph Pada Telur Ayam Dari Pasar Tradisional Maros. Jurnal Peternakan, 2(2), 1–37.

 

Istiqomah, 2022. Optimasi Metode Ekstraksi Zat Pewarna Alami Dalam Kayu Secang (Caesalpinia Sappan L.) Dengan Metode Ultrasound Assisted Extraction (Uae). Skripsi. Diploma Thesis, Politeknik Negeri Lampung. Online http://repository.polinela.ac.id/id/eprint/4038 Diakses pada 10 januari 2023

 

Mudlikah S, Aditama L. Asuhan Kebidanan Kegawatdaruratan Pada Anak. In: Asuhan Kebidanan Kegawatdaruratan Pada Anak. ; 2019.

 

Muh. Nurul Ma’arif,2018. Analisis Kualitas Air Minum Isi Ulang Di Kota Makassar. Online (https://core.ac.uk/download/pdf/77630836.pdf). Diakses pada 9 November 2023.

 

Nabilah Muhamad, Mayoritas Rumah Tangga Indonesia Konsumsi Air Minum Kemasan. Online (Mayoritas Rumah Tangga Indonesia Konsumsi Air Minum Kemasan (katadata.co.id) Diakses pada 9 November 2023.

 

Nomer, et al, 2019. Kandungan Senyawa Flavonoid Dan Antosianin Ekstrak Kayu Secang (Caesalpinia Sappan L.) Serta Aktivitas Antibakteri Terhadap Vibrio Cholerae. Jurnal Ilmu dan Teknologi Pangan. 216-225. 8 (2). 2019. (Online) https://ojs.unud.ac.id/index.php/itepa/article/view/50320/29934 Diakses pada 10 Januari 2024.

 

Nurcahaya, 2021. Kemampuan Kayu Secang Dalam Menurunkan Kandungan Bakteri Coliform pada Air Bersih. Skripsi. Makassar. Poltekkes Kemenkes Makssar.

 

Permenkes. Peraturan Menteri Kesehatan Nomor 2 Tahun 2023. 2023;(55).

 

Radhiansyah M. Pengaruh Konsentrasi Kayu Secang (Caesalpinia Sappan L.) Terhadap Total Miktoba, PH Dan Organoleptik Daging Ayam. J. Sains Dan Teknologi Pangan.; 2018.

 

Savitfri, L., Dewi, S.S. and Wilson, W. (2020) ‘Pengaruh Lama Penyimpanan Pada Lemari Pendingin Terhadap Jumlah Coliform dan Escherichia coli Air Minum Isi Ulang’, Universitas Muhammadiyah Semarang, pp. 1–6. Available at: http://repository.unimus.ac.id/3273/. Diakses pada 10 Mei 2024

 

Silviani Y, Handayani S. Pengaruh Variasi Kombinasi Rebusan Kayu Secang (Caesalpinia sappan L.). J Heal Sains. Published online 2017.

 

Siregar UR. Analisa Bakteri Coliform Metode Most Probable Number (MPN) Pada Air Minum Isi Ulang Di Jalan Anwar Idris Tanjungbalai.; 2018.

 

Suhartati, Ramdana S. Secang (Caesalpinia sappan L.) ; Tumbuhan Herbal Kaya Antioksidan. J Ilmu Kesehat Masy. 2016;10(04):217-229. doi:10.33221/jikm.v10i04.860

 

Sulistryorini RAD dan L. Analisis Kualitas Bakteriologis Air Minum Isi Ulang Di Kelurahan Sememi, Kecamatan Benowo. Indones J Public Heal. Published online 2017.

 

Trilestari I. Uji Daya Hambat Ekstrak Kayu Secang (Caesalpinia sappan Linn) terhadap Bakteri Steptococcus sanguinis. Published online 2021. doi:10.31934/mppki.v2i3.

 

Winda Jumara, 2018. Pengaruh Kondisi Ph Dan Perbandingan Rempah Terhadap Karakteristik Minuman Serbuk Secang Online (https://repository.unpas.ac.id/33611/2/ARTIKEL.pdf) Diakses Pada 1 Mei 2024.

 

Wiwid Widyaningsih, suharyono  dkk. 2016. Analisis Total Bakteri Coliform Di Perairan Muara Kali Wiso Jepara.; 2016.











Tidak ada komentar:

Posting Komentar